MAKALAH MATA KULIAH
STUDI AL-QURAN
DOSEN PENGAMPU:
Prof. Dr. MOH ALI AZIZ, M.Ag.
Prof. Dr. MOH ALI AZIZ, M.Ag.
OLEH:
MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH
NIM : B71219066
PROGRAM STUDI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR
Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Quran. Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Quran, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca .
Surabaya, 26 Agustus 2019
Mufidah Nurul Alawiyyah
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
2
Daftar Isi
3
BAB I (Pembahasan )…………………….………4
A.
Tafsir pada Masa Nabi ..........................4
B.
Tafsir pada Masa Sahabat .....................8
C.
Tafsir pada Masa Tabi’in ......................22
BAB
II ( Penutup)………………...…………….................28
A. Kesimpulan………………………….….28
A. Kesimpulan………………………….….28
Daftar
Pustaka……………..………..……....….32
BAB I
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
1.
Tafsir Pada masa Nabi
Pertumbuhan
tafsir, dimulai sejak hidupnya Rasulullah yaitu orang yang pertama kali
menguraikan kitab Alquran atau
menjelaskan wahyu Allah kepada umatnya. Kalau ada masalah yang muncul dari umatnya, Nabi saw. Dapat menjelaskan
masalah tersebut secara langsung. Dengan demikian, pada zaman Nabi/ Rasulullah semua persoalan dapat diatasi oleh Nabi.
memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa dialah yang “bertanggung jawab” melindungi Al-Qur’an dan
menjelaskannya, “sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya”(di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 17-19)[1]
menjelaskan wahyu Allah kepada umatnya. Kalau ada masalah yang muncul dari umatnya, Nabi saw. Dapat menjelaskan
masalah tersebut secara langsung. Dengan demikian, pada zaman Nabi/ Rasulullah semua persoalan dapat diatasi oleh Nabi.
memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa dialah yang “bertanggung jawab” melindungi Al-Qur’an dan
menjelaskannya, “sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya”(di dadamu) dan (membuatmu pandai)
membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas
tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 17-19)[1]
Nabi memahami
Al-Qur’an dengan sempurna baik secara global dan terperinci. Dan tugasnya
adalah menerangkannya
kepada para sahabat.Ada dua jenis interpretasi oleh Nabi saw yaitu praktis dan ekspositoris. Interpretasi praktis adalah
bentuk interpretasi dimana Nabi saw mempraktekkan instruksi al-Quran. Sedangkan interpretasi ekspositoris adalah
interpretasi dimana Nabi saw menjelaskan apa yang dimaksud ayat tertentu. Interpretasi ‘praktis’ dapat disebut ‘tidak
langsung’, sedangkan intrepretasi ‘ekspositoris’ bisa disebut ‘langsung’. Dan sebagian besar penafsiran Nabi saw
kepada para pengikutnya adalah jenis interpretasi praktis.
kepada para sahabat.Ada dua jenis interpretasi oleh Nabi saw yaitu praktis dan ekspositoris. Interpretasi praktis adalah
bentuk interpretasi dimana Nabi saw mempraktekkan instruksi al-Quran. Sedangkan interpretasi ekspositoris adalah
interpretasi dimana Nabi saw menjelaskan apa yang dimaksud ayat tertentu. Interpretasi ‘praktis’ dapat disebut ‘tidak
langsung’, sedangkan intrepretasi ‘ekspositoris’ bisa disebut ‘langsung’. Dan sebagian besar penafsiran Nabi saw
kepada para pengikutnya adalah jenis interpretasi praktis.
Contoh interpretasi [2]‘ekspositoris’ atau
langsung adalah definisi Nabi saw tentang kata miskin yang mengambil
referensi dari Q.S. al-Baqarah: 273;
referensi dari Q.S. al-Baqarah: 273;
لۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ
ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ
مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسَۡٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ
وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
“o orang-orang fakir yang terikat (oleh
jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi;
orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kayak arena memelihara diri dari minta-minta.
Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”
orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kayak arena memelihara diri dari minta-minta.
Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”
Contoh
interpretasi praktis atau ‘tidak langsung’ adalah tatacara salat. Al-Quran
memerintahkan umat Islam untuk
melakukan salat tetapi tidak memberikan rincian tentang bagaimana melaksanakannya.Nabi saw mengajarkan
pengikutnya bagaimana melakukan salat dengan melakukan sendiri (melalui sikap/Hadis/fi’ly).Demikian juga tentang
perintah untuk membayar zakat, Nabi saw. Menempatkan pengajarannya dalam praktek dengan menerapkan sistem zakat
melalui instruksi.
melakukan salat tetapi tidak memberikan rincian tentang bagaimana melaksanakannya.Nabi saw mengajarkan
pengikutnya bagaimana melakukan salat dengan melakukan sendiri (melalui sikap/Hadis/fi’ly).Demikian juga tentang
perintah untuk membayar zakat, Nabi saw. Menempatkan pengajarannya dalam praktek dengan menerapkan sistem zakat
melalui instruksi.
Apa yang terlihat
dalam penafsiran Nabi saw (sebagaimana dilaporkan dalam Hadith) adalah bahwa
biasanya tidak ada
analisis sistematis (linguistic atau lainnya) dari teks yang diuraikan. Nabi saw lebih tertarik dalam menyampaikan
implikasi praktis dari Al-quran itu diterapkan pada suatu keadaan tertentu.
analisis sistematis (linguistic atau lainnya) dari teks yang diuraikan. Nabi saw lebih tertarik dalam menyampaikan
implikasi praktis dari Al-quran itu diterapkan pada suatu keadaan tertentu.
Hubungan antara Nabi
saw dengan Al-quran intim dan timbal balik. Firman Allah telah diberikan dalam
bahasa
manusia, yaitu bahasa Arab, melalui media Nabi, yang adalah dirinya sendiri.[3]
manusia, yaitu bahasa Arab, melalui media Nabi, yang adalah dirinya sendiri.[3]
Disinilah letak keunikan penafsiran Nabi saw karena
beliau mendapatkan pengalaman dan keterlibatan mendalam
dengan ‘kata’ yang memberinya wewenang untuk menafsirkan Al-quran.
dengan ‘kata’ yang memberinya wewenang untuk menafsirkan Al-quran.
2.
Tafsir pada Masa Sahabat
Ahli tafsir dikalangan para sahabat Nabi banyak
jumlahnya, tapi yang terkenal luas hanyalah 10 orang, empat orang
Khulafa Rasyidun, yakni Abu Bakar ash-Shiddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib –
radhiyallahu ‘anhum. Selain mereka terkenal juga nama nama: Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab,
Zaid bin tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin zubair. [4]
Dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka.Cukup banyak riwayat riwayat tafsir bil
ma’tsur yang dinisbatkan kepada mereka dan sahabat lainnya yang tentu saja berbeda-beda derajat ke-shahih-an
dank e-dha’if-annya dilihat dai sudut sanad.Diantara empat orang Khulafa Rasyidun, yang paling banyak disebut-sebut
para ahli riwayat adalah ‘Ali bin Abi thalib’ – karamallahu wajhahu. Abu Nu’aim meriwayatkan di dalam al-Hilyah
dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Al-quran itu diturunkan sebanyak tujuh buah huruf.
Setiap huruf mengandung makna lahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali memiliki ilmu lahir dan ilmu batin itu.”[5]
Adapun riwayat tiga orang khalifah lainnya – mengenai soal tafsir – sangat jarang,mungkin karena mereka itu wafat lebih
dulu.
Khulafa Rasyidun, yakni Abu Bakar ash-Shiddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib –
radhiyallahu ‘anhum. Selain mereka terkenal juga nama nama: Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab,
Zaid bin tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin zubair. [4]
Dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka.Cukup banyak riwayat riwayat tafsir bil
ma’tsur yang dinisbatkan kepada mereka dan sahabat lainnya yang tentu saja berbeda-beda derajat ke-shahih-an
dank e-dha’if-annya dilihat dai sudut sanad.Diantara empat orang Khulafa Rasyidun, yang paling banyak disebut-sebut
para ahli riwayat adalah ‘Ali bin Abi thalib’ – karamallahu wajhahu. Abu Nu’aim meriwayatkan di dalam al-Hilyah
dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Al-quran itu diturunkan sebanyak tujuh buah huruf.
Setiap huruf mengandung makna lahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali memiliki ilmu lahir dan ilmu batin itu.”[5]
Adapun riwayat tiga orang khalifah lainnya – mengenai soal tafsir – sangat jarang,mungkin karena mereka itu wafat lebih
dulu.
Diantara sepuluh orang sahabat Nabi itu, yang paling
tepat bergelar “ ahli tafsir al-Quran” ialah ‘Abdullah bin Abbas’,
kedalaman ilmunya disaksikan sendiri oleh rasulullah ketika beliau berdoa baginya: “ Ya Allah, limpahkanlah ilmu
agama yang mendalam kepadanya dan ajarkanlah ilmu ta’wil kepadanya.” Ibnu Abbas terkenal pula dengan Tarjumanul
Al-qur’an. Akan tetapi banyak orang yang menambah-nambah riwayat mengenai Ibnu Abbas. Diantara mereka ada
pula yang merendahkannya dan meremehkan ucapan-ucapannya, sehingga Imam Syafi’i sendiri mengatakan: “Tafsir yang
benar dari Ibnu Abbas hanya setara seratus Hadis.”
Diluar 10 orang tersebut diatas, terdapat nama-nama lain dikalangan para sahabat Nabi yang turut ambil bagian dalam
penafsiran al-Qur’an. Mereka itu adalah Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah dan
Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. Tapi tafsir yang diriwayatkan berasal dari mereka hanya sedikit saja jika dibanding dengan
tafsir yang berasal dari 10 orang tersebut diatas. [6]
Para sahabat dalam menafsirkan Al- Qur’an pada masa dahulu berpegang pada:
kedalaman ilmunya disaksikan sendiri oleh rasulullah ketika beliau berdoa baginya: “ Ya Allah, limpahkanlah ilmu
agama yang mendalam kepadanya dan ajarkanlah ilmu ta’wil kepadanya.” Ibnu Abbas terkenal pula dengan Tarjumanul
Al-qur’an. Akan tetapi banyak orang yang menambah-nambah riwayat mengenai Ibnu Abbas. Diantara mereka ada
pula yang merendahkannya dan meremehkan ucapan-ucapannya, sehingga Imam Syafi’i sendiri mengatakan: “Tafsir yang
benar dari Ibnu Abbas hanya setara seratus Hadis.”
Diluar 10 orang tersebut diatas, terdapat nama-nama lain dikalangan para sahabat Nabi yang turut ambil bagian dalam
penafsiran al-Qur’an. Mereka itu adalah Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah dan
Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. Tapi tafsir yang diriwayatkan berasal dari mereka hanya sedikit saja jika dibanding dengan
tafsir yang berasal dari 10 orang tersebut diatas. [6]
Para sahabat dalam menafsirkan Al- Qur’an pada masa dahulu berpegang pada:
1. A l. Al-Qur’an Al-Karim, sebab apa
yang dikemukakan secara global di satu
tempat dijelaskan secara terperinci di tempat
yang lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat yang
lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.” Penafsiran
seperti ini cukup banyak contohnya. Misalnya, kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas di beberapa
tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar. Misalnya, “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali
yang akan dibacakan kepadamu.....” (Al-Maidah: 1), dan “Diharamkan bagimu bangkai.....” (Al-Maidah: 3)
yang lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat yang
lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.” Penafsiran
seperti ini cukup banyak contohnya. Misalnya, kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas di beberapa
tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar. Misalnya, “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali
yang akan dibacakan kepadamu.....” (Al-Maidah: 1), dan “Diharamkan bagimu bangkai.....” (Al-Maidah: 3)
2 2. Nabi saw. Beliaulah pemberi penjelasan (penafsir) Al-Qur’an otoritatif. [7]
Ketika para sahabat mendapatkan kesulitan dalam
memahami sesuatu ayat, mereka merujuk kepada Nabi.
Dari Ibnu Mas’ud
diriwayatkan, ia berkata “Ketika turun ayat ini, orang-orang yang beriman dan
tidak
mencampuradukkan imannya dengan kezhaliman.....” (Al-An’am: 82), sangat meresahkan hati para sahabat.
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di terhadap diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap
dirinya?” Beliau menjawab “Kezhaliman disini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidaklah kamu mendengar
apa yang dikatakan seorang hamba yang saleh.”
mencampuradukkan imannya dengan kezhaliman.....” (Al-An’am: 82), sangat meresahkan hati para sahabat.
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di terhadap diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap
dirinya?” Beliau menjawab “Kezhaliman disini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidaklah kamu mendengar
apa yang dikatakan seorang hamba yang saleh.”
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
“ Sesungguhnya
syirik itu adalah kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13). Kezhaliman yang
dimaksud di sini,
sesunguhnya syirik.
sesunguhnya syirik.
Demikian juga
Rasulullah menjelaskan kepada mereka apa yang ia kehendaki ketika diperlukan.
Dari Uqbah bin Amir,
ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan membaca ayat di atas mimbar: ‘Siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu bisa.’ (Al-Anfal: 60). Ketahuilah ‘kekuatan’ disini adalah memanah.
ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan membaca ayat di atas mimbar: ‘Siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu bisa.’ (Al-Anfal: 60). Ketahuilah ‘kekuatan’ disini adalah memanah.
Dari Anas, ia
berkata, “Al-Kautsar adalah sungai yang diberikan Tuhan kepadaku di surga.”
Biasanya dalam
kitab-kitab hadist, ada bab khusus yang memuat tentang tafsir bi al-ma’tsur yang bersumber dari
Rasulullah,
Rasulullah,
وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ
ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ
لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ
“Dan kami tidaklah menurunkan kepadamu Kitab, melainkan agar kamu menjelaskan
kepada mereka apa yang
mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)
mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)
Diantara
kandungan Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui takwilnya
kecuali melalui penjelasan
Rasulullah. Misalnya, rincian tentang perintah dan larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah,
Rasulullah. Misalnya, rincian tentang perintah dan larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah,
“Ketahuilah, sungguh telah diturunkan
kepadaku Al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya....”
3.
Pemahaman dan ijtihad. Adalah para sahabat apabila
tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah,
m mereka melakukan ijtihad.Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab,
memahaminya dengan baik dan mengetahui aspek-aspek ke-balaghah-an yang ada di dalamnya.Penafsiran Al-Qur’an
dari para sahabat Nabi diterima baik oleh para ulama dari kaum Tabi’in (generasi berikutnya) di berbagai daerah
Islam. Pada akhirnya muncullah kelompok-kelompok ahli tafsir di Mekah, di Madinah dan di Iraq. Mengenai mereka
itu Ibnu Taimiyyah berkata: “ Yang paling banyak mengetahui soal tafsir ialah orang-orang Mekah, karena mereka itu
sahabat-sahabat Ibnu abbas, seperti: Mujahid, Atha bin Abi Rayyah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Thawus
dan lain-lain.
m mereka melakukan ijtihad.Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab,
memahaminya dengan baik dan mengetahui aspek-aspek ke-balaghah-an yang ada di dalamnya.Penafsiran Al-Qur’an
dari para sahabat Nabi diterima baik oleh para ulama dari kaum Tabi’in (generasi berikutnya) di berbagai daerah
Islam. Pada akhirnya muncullah kelompok-kelompok ahli tafsir di Mekah, di Madinah dan di Iraq. Mengenai mereka
itu Ibnu Taimiyyah berkata: “ Yang paling banyak mengetahui soal tafsir ialah orang-orang Mekah, karena mereka itu
sahabat-sahabat Ibnu abbas, seperti: Mujahid, Atha bin Abi Rayyah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Thawus
dan lain-lain.
Demikian juga mereka yang ada di (kufah) Iraq, yaitu sahabat-sahabat Abdullah
bin Mas’ud. Yang di Madinah, seperti
Zaid bin AAslam yang menurunkan ilmunya kepada anaknya sendiri, Abdurrahman bin Zahid, dan kepada muridnya,
yaitu Malik bin Anas. Beberapa sahabat Nabi saw mengalami kesulitan memahami ayat-ayat tertentu. Salah satu
alasan bagi kesulitan ini mungkin adalah bahwa Al-quran itu dibaca dan diucapkan dalam dialek Quraysh, yang
diucapkan di Makkah dan daerah sekitarnya. Kesulitan kedua para sahabat dalam memahami beberapa referensi historis
dari Al-quran, khususunya kisah-kisah para nabi (qasas al-anbiya’) dan bangsa di masa lalu.
Penafsiran para sahabat ‘sering agak pribadi’, mereka menyatakan apa yang mereka pikir adalah arti yang paling sesuai
untuk teks. Dengan perluasan hegemoni Muslim yang dibangun sejak penaklukan abad pertama Hijriyah/ ketujuh Masehi.,
konversi ke Islam dari agama lain mulai terjadi dalam skala besar. [8]Wafatnya Nabi saw berarti bahwa umat Islam
baru harus bergantung pada sahabat terkemuka untuk pemahaman mereka tentang agama dan Al-quran. Sahabat yang
menetap di tempat-tempat seperti Irak, Suriah, Mesir dan Yaman, atau tetap di Makkah dan Madinah, menjadi eksponen
otoratif makna dari teks Al-quran.
Zaid bin AAslam yang menurunkan ilmunya kepada anaknya sendiri, Abdurrahman bin Zahid, dan kepada muridnya,
yaitu Malik bin Anas. Beberapa sahabat Nabi saw mengalami kesulitan memahami ayat-ayat tertentu. Salah satu
alasan bagi kesulitan ini mungkin adalah bahwa Al-quran itu dibaca dan diucapkan dalam dialek Quraysh, yang
diucapkan di Makkah dan daerah sekitarnya. Kesulitan kedua para sahabat dalam memahami beberapa referensi historis
dari Al-quran, khususunya kisah-kisah para nabi (qasas al-anbiya’) dan bangsa di masa lalu.
Penafsiran para sahabat ‘sering agak pribadi’, mereka menyatakan apa yang mereka pikir adalah arti yang paling sesuai
untuk teks. Dengan perluasan hegemoni Muslim yang dibangun sejak penaklukan abad pertama Hijriyah/ ketujuh Masehi.,
konversi ke Islam dari agama lain mulai terjadi dalam skala besar. [8]Wafatnya Nabi saw berarti bahwa umat Islam
baru harus bergantung pada sahabat terkemuka untuk pemahaman mereka tentang agama dan Al-quran. Sahabat yang
menetap di tempat-tempat seperti Irak, Suriah, Mesir dan Yaman, atau tetap di Makkah dan Madinah, menjadi eksponen
otoratif makna dari teks Al-quran.
Tidak diragukan
lagi Al-quran adalah sumber fundamental bagi agama baru, tetapi bagi pemeluk
baru banyak yang tidak
mengalami zaman Nabi saw, dan yang datang dari latar belakang bahasa dan agama lain, sehingga sulit mengakses makna
Al-quran secara langsung. Karena itu, sahabat memainkan peran utama dalam memastikan bahwa teks dimengerti untuk
Muslim generasi baru, yang banyak diantaranya tidak mengetahui dialek Quraysh Arab.
mengalami zaman Nabi saw, dan yang datang dari latar belakang bahasa dan agama lain, sehingga sulit mengakses makna
Al-quran secara langsung. Karena itu, sahabat memainkan peran utama dalam memastikan bahwa teks dimengerti untuk
Muslim generasi baru, yang banyak diantaranya tidak mengetahui dialek Quraysh Arab.
Dalam periode
ekspansi yang cepat dari pengetahuan dan pemikiran di dunia islam pada awal
abad kedua hijriyah/
kedelapan Masehi, penafsiran Al-quran dapat digambarkan ‘mencair’. Perubahan tersebut disebabkan oleh empat
alasan utama yaitu: (1) daerah dengan berbagai perbedaan, campuran budaya dan perbedaan tingkat interaksi antara Muslim,
Yahudi, Kristen dan Zoroastrian., (2) pendekatan individual dari sahabat dan tabi’in dengan penafsiran dan penerapan
teks-teks kunci Al-quran dan Hadist, dan tingkat pengaplikasian yang kaku (3) berbagai teks, khususnya teks Hadith yang
tersedia hanya pada hal-hal tertentu, dan (4) perbedaan dalam memahami teks.
kedelapan Masehi, penafsiran Al-quran dapat digambarkan ‘mencair’. Perubahan tersebut disebabkan oleh empat
alasan utama yaitu: (1) daerah dengan berbagai perbedaan, campuran budaya dan perbedaan tingkat interaksi antara Muslim,
Yahudi, Kristen dan Zoroastrian., (2) pendekatan individual dari sahabat dan tabi’in dengan penafsiran dan penerapan
teks-teks kunci Al-quran dan Hadist, dan tingkat pengaplikasian yang kaku (3) berbagai teks, khususnya teks Hadith yang
tersedia hanya pada hal-hal tertentu, dan (4) perbedaan dalam memahami teks.
Dalam konteks yang
lebih luas pendekatan terhadap Al-quran oleh para sahabat terdapat dua kubu;
kubu kontektualis yang
popular dengan sebutan ahl al-qiyas (ahl ar-ra’y) dan kubu tekstualis yang dikenal dengan ahl al-Madinah
(ahl al-hadith) yang membatasi fleksibilitas pemahaman Al-quran.
popular dengan sebutan ahl al-qiyas (ahl ar-ra’y) dan kubu tekstualis yang dikenal dengan ahl al-Madinah
(ahl al-hadith) yang membatasi fleksibilitas pemahaman Al-quran.
Para tektualis
mengandalkan tiga prinsip dalam pendekatan tafsir mereka, yang mendasari
pemahaman, interpretasi,
dan aplikasi aturan Al-quran pada kehidupan sehari-hari bagi individu dan masyarakat.
dan aplikasi aturan Al-quran pada kehidupan sehari-hari bagi individu dan masyarakat.
Pertama, bahwa
teks dianggap sebuah ketetapan, dan tujuan dasar untuk memahami Al-quran;
kedua, bahwa banyak teks
di dalam Al-quran maupun Hadith yang menunjukkan, bahwa agama Islam telah sempurna, dalam arti, bahwa Al-quran
maupun hadith telah menyinggung semua aturan, baik yang bersifat individu, maupun sosial; ketiga, tidak diperlukan lagi
adanya penelusuran lebih lanjut, klarifikasi, atau justifikai murni berdasarkan rasio. Maka sejak saat itu, peran akal sedikit demi
sedikit terbatasi dalam memahami dan mengaplikasikan teks-teks suci, khususnya di wilayah Islam Sunni.
di dalam Al-quran maupun Hadith yang menunjukkan, bahwa agama Islam telah sempurna, dalam arti, bahwa Al-quran
maupun hadith telah menyinggung semua aturan, baik yang bersifat individu, maupun sosial; ketiga, tidak diperlukan lagi
adanya penelusuran lebih lanjut, klarifikasi, atau justifikai murni berdasarkan rasio. Maka sejak saat itu, peran akal sedikit demi
sedikit terbatasi dalam memahami dan mengaplikasikan teks-teks suci, khususnya di wilayah Islam Sunni.
Pendekatan kubu
kontekstual berupaya untuk menciptakan keharmonisan antara teks dan ra’yu
(aql). Tujuannya
adalah untuk sistematisasi hukum dan kesatuan titik utama dalam komunitas muslim. Sementara tidak ada perselisihan
antara dua trend pada Al-quran sebagai sumber hukum yang paling penting, namaun ada perbedaan tingkat fleksibilitas
yang harus ada dalam penggunaan rasio (ra’y) dalam interpretasi (tafsir) dan hukum. Sebuah media penting yang dianggap
berguna dalam hal ini adalah qiyas (analogi). Qiyas adalah produk sampingan dari (ra’y) yang bertugas untuk memperluas
lingkup teks dan hukum, juga membantu menafsirkan dan menerapkan teks kedalam kehidupan masyarakat.
adalah untuk sistematisasi hukum dan kesatuan titik utama dalam komunitas muslim. Sementara tidak ada perselisihan
antara dua trend pada Al-quran sebagai sumber hukum yang paling penting, namaun ada perbedaan tingkat fleksibilitas
yang harus ada dalam penggunaan rasio (ra’y) dalam interpretasi (tafsir) dan hukum. Sebuah media penting yang dianggap
berguna dalam hal ini adalah qiyas (analogi). Qiyas adalah produk sampingan dari (ra’y) yang bertugas untuk memperluas
lingkup teks dan hukum, juga membantu menafsirkan dan menerapkan teks kedalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian,
maka sumber penafsiran Al-quran pada masa sahabat antara lain; Al-quran,
Hadith, ijtihad, dan
al-kitab. Penafsiran Al-quran pada masa sahabat ini telah terjadi penafsiran bi ar-ra’yi tetapi harus memiliki prasyarat
(kode etik) sebagai berikut;
al-kitab. Penafsiran Al-quran pada masa sahabat ini telah terjadi penafsiran bi ar-ra’yi tetapi harus memiliki prasyarat
(kode etik) sebagai berikut;
1.
Mengenal tata bahasa Arab
2.
Mengenal budaya dan karakter Arab
3.
Mengenal keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani di Jazirah
Arab pada waktu turunnya Al-quran
4.
Penguasaannya terhadap Al-quran termasuk asbab an nuzul.
3.
Tafsir pada Masa Tabi’in
Perkembangan
tafsir Al-Qur’an sejak masa Nabi saw, para sahabat r.a, sampai dengan zaman
kini, dapat diklasifikasikan
ke dalam dua kategori; metodologis (manhaj), dan karakteristik/corak (lawn/naz’ah/ittijah). Secara metodologis,
aktifitas penafsiran ditinjau dari sisi penafsirannya, cara penjelasannya, cara menentukan sasaran dan susunan
ayat-ayat yang ditafsirkannya, serta keluasan penafsirannya. Sedangkan karakteristik penafsiran dapat ditelusuri
dari sisi kecenderungan penafisr dalam menyajikan karya penafsirannya. Kalau dikalangan sahabat banyak yang
dikenal pakar dalam bidang tafsir, dikalangan tabi’in yang nota benenya menjadi murid mereka pun, banyak pakar dibidang
tafsir.
ke dalam dua kategori; metodologis (manhaj), dan karakteristik/corak (lawn/naz’ah/ittijah). Secara metodologis,
aktifitas penafsiran ditinjau dari sisi penafsirannya, cara penjelasannya, cara menentukan sasaran dan susunan
ayat-ayat yang ditafsirkannya, serta keluasan penafsirannya. Sedangkan karakteristik penafsiran dapat ditelusuri
dari sisi kecenderungan penafisr dalam menyajikan karya penafsirannya. Kalau dikalangan sahabat banyak yang
dikenal pakar dalam bidang tafsir, dikalangan tabi’in yang nota benenya menjadi murid mereka pun, banyak pakar dibidang
tafsir.
Menurut Adz-Dzahabi, dalam memahami kitabullah, para mufasir dari kalangan
tabi’in berpegang pada Al-quran itu, keterangan yang mereka riwayatkan dari
para sahabat yang berasal dari Rasulullah, penafsiran para sahabat, ada juga yang mengambil dari Ahli Kitab yang bersumber dari isi kitab mereka.
Pada uraian di muka telah dikemukakan, tafsir yang dinukil dari
Rasulullah dan para sahabat tidak mencakup semua ayat
Al-Qur’an. Mereka hanya
menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang-orang yang semasa
dengan mereka. Kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahap di saat
manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan sahabat.
Maka para tabi’in yang menekuni bidang
tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian kekurangan ini.
Karenanya mereka pun menambahkan kedalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat
menghilangkan kekurangan tersebut.
Setelah
itu muncullah generasi sesudah tabi’in, generasi ini pun berusaha
menyempurnakan tafsir Al-Qur’an secara terus-m menerus dengan berdasarkan pada
pengetahuan mereka atas bahasa Arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa
yang terjadi pada masa turunnya Al-Qur’an yang mereka pandang valid dan pada
alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian lainnya.
Ketika penklukkan
Islam semakin luas. Tokoh-tokoh sahabat terdorong berpindah ke daerah-daerah
taklukan. Mereka membawa ilmu masing-masing.
Dari tangan mereka inilah tabi’in, murid mereka itu, belajar dan menimba ilmu,
sehingga selanjutnya tumbulah berbagai madzhab dan perguruan tafsir.
Di Makkah,
misalnya, berdiri perguruan Ibnu Abbas. Di antara muridnya yang terkenal adalah
Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani
dan Atha’ bin Abi Rabah. Mereka ini semuanya dari golongan maula (sahaya yang
telah dibebaskan). Periwayatan tafsir dari Ibnu Abbas, yang sampai ke tangan
murid- muridnya itu tidak sama, ada yang sediit dan ada pula yang banyak,
sebagaimana para ulama pun berbeda pendapat mengenai kadar “keterpercayaan” dan
kredibilitas mereka.
Dan yang mempunyai
kelebihan diantara mereka tetapi mendapat sorotan adalah Ikrimah. Para ulama
berbeda pandangan di sekitar penilaian terhadap kredibilitasnya meskipun mereka
mengakui keilmuan dan keutamaannya.
Di Madinah, Ubay
bin Ka’ab lebih terkenal dibidang tafsir dari orang lain.Pendapat-pendapatnya
tentang tafsir banyak dinukil generasi sesudahnya. Di antara muridnya dari
kalangan tabi’in, ialah zaid bin Aslam, Abu Aliyahdan Muhammad bin Ka’ab
Al-Qurazhi.
Di Irak berdiri
perguruan ibnu Mas’ud yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal
madzhab ahli ra’yi. Dan banyak pula tabi’in di irak dikenal dalam bidang
tafsir. Yang masyhur diantaranya adalah Alqamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin
Yazid, Murrah Al-Hazani, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Basri dan Qatadah bin
Di’amah As-Sadusi.
Itulah para
mufassir terkenal dari kalangan tabi’in yang ada di berbagai wilayah Islam, dan
dari mereka pulalah generasi setelah tabi’in belajar. Mereka telah mewariskan
warisan ilmiah yang abadi kepada kita.
Para ulama berbeda
pendapat tentang kualitas tafsir tabi’in jika tafsir tersebut bersifat
independen, tidak diriwayatkan dari Rasulullah atau para sahabat, apakah para
pendapat mereka itu dapat dipegangi atau tidak?
Segolongan ulama
berpendapat, tafsir mereka tidak (harus) dijadikan pegangan, sebab mereka tidak
menyaksikan peristiwa-peristiwa, situasi atau kondisi yang berkenaan dengan
turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga mereka bisa saja berbuat salah dalam
memahami apa yang dimaksud. Sebaliknya, banyak mufassir berpendapat, tafsir
mereka dapat dipegangi, sebab pada umunya mereka menerimanya dari para sahabat.
Pendapat yang kuat
ialah jika para tabi’in sepakat atas sesuatu pendapat, maka bagi kita wajib
menerimanya, tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil jalan yang lain.
Ibnu Taimiyah
menukil pendapat, Syu’bah bin Al-Hajjaj dan lainnya katanya, “pendapat para
tabi’in itu bukan hujjah.” Maka bagaimana pula pendapat-pendapat tersebut dapat
menjadi hujjah di bidang tafsir? Maksudnya, pendapat-pendapat itu tidak menjadi
hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pendapat
yang benar. Namun jika mereka sepakat atas sesuatu maka tidak diragukan lagi
bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah. Sebaliknya, jika mereka berbeda
pendapat sebagian mereka tidak menjadi hujjah, baik bagi kalangan tabi;in
sendiri maupun bagi generasi sesudahnya. Dalam keadaan demikian, persoalannya
dikembalikan kepada bahasa Al-Qur’an, Sunnah, keumuman bahasaArab dan pendapat
para sahabat tentang hal tersebut.
Pada masa tabi’in
ini, tafsir tetap konsisten dengan metode talaqqi
watalqin (penerimaan dan periwayatan). Tetapi setelah banyak ahli kitab
masuk Islam, para tabi’in banyak yang menukil dari mereka cerita-cerita
isra’iliyat yang kemudian dimasukkan kedalam tafsir. Misalnya, yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Al-Ahbar, Wahab bin Munabbih
dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Di samping itu, pada masa ini, mulai
timbul silang pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka
karena banyaknya pendapat-pendapat mereka. Namun demikian, pendapat-pendapat
tersebut sebenarnya hanya bersifat keberagaman pendapat, berdekatan satu dengan
yang lain. Dan perbedaan itu hanya dari sisi redaksional, bukan perbedaan yang
bersifat kontradiktif.
Ahli tafsir
golongan tabi’in lebih banyak daripada golongan ahli tafsir sahabat, karena golongan
sahabat yang terkenal dengan ahli tafsir tidak lebih dari sepuluh orang,
seperti telah disebutkan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya Al-Itqan.
Ahli tafsir
golongan tabi’in ini terbagi dalam tiga kelompok yaitu :
1. Kelompok ahli Makkah
2. Kelompok ahli Madinah
3. Kelompok ahli Irak
Upaya penafsiran Alquran pada masa-masa awal Indonesia modern ini
ditampilkan melalui paparan ayat-ayat tertentu dari Alquran yang berkaitan
dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Ayat-ayat tersebut ditampilkan diberi komentar
sesuai dengan kecenderungan pemberi komentar (mufassir). Karya-karya tafsir
semacam ini kemudian cukup mendapat respons dari masyarakat dan dianggap cukup
penting untuk dipelajari dan dijadikan sebagai buku agama. [10]
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pertumbuhan
Al-Qur’an dimulai sejak dini, yaitu sejak zaman Rasulullah saw, orang pertama
yang menguraikan Kitabullah Al-Qur’an dan menjelaskan kepada umatnya wahyu yang
diturunkan Allah swt ke dalam hatinya.
Ahli tafsir
dikalangan para sahabat Nabi banyak jumlahnya, tapi yang terkenal luas hanyalah
10 orang, empat orang Khulafa Rasyidun, yakni Abu Bakar ash-Shiddik, Umar bin
Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib r.a. Serta masih banyak lagi
para sahabat Nabi yang menguasai ahli tafsir.
Dalam menafsirkan,
para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa pendahulunya
disamping ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shaabuuniy,
Muhammad Ali. Studi Alquran. Maktabah Al-Ghazali.
Suyuti,
Imam. Uluwul Qur’an II. Surakarta,
Indiva Pustaka, 2009.
Damaskus, 1991. Cetakan I.
As-Shalih,
Subhi. Membahas Ilmu- Ilmu Al-Qur’an.
Jakarta: Tim Pustaka
Firdaus,1985. Cetakan ke 16 1985.
Baidan, Nashruddin. Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia.
Manna
Al-Qaththan, Syaikh. Mabahits fii Ulumil
Qur’an. Jakarta Timur:
Maktabah Wahbah – Kairo, 2004.Cetakan ke 13 / 2004 M –
1425 H.
Manna
Al-Qaththan, Syaikh.Pengantar Studi
Al-Qur’an. Maktabah
Kairo, 2004. Cetakan ke 13 / 2004 M-1425 H.
Mashyud. Studi
Alquran. Surabaya:Anggota IKAPI, 2011.
Mashyur. M. Studi Alquran. Penerbit Dakwah Digital
Perss, 2009.
Musyafa’ah,
Hj. Sauqiyah. Studi Al-Qur’an.
Surabaya, Anggota IKAPI,
2011. Cetakan pertama Surabaya UINSA Press Agustus
2011.
Rohimin. Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model
Penafsiran.
Pustaka Pelajar. Cetakan I April 2007.
Cetakan Pertama, Rabi’ul awal 1430H/ Maret 2009.
Zuhdi,
Achmad. Studi Al-Qur’an. Surabaya:Anggota IKAPI,
2011.
[2]Zuhdi, Achmad. Studi Alquran.
Surabaya: Anggota IKAPI, 2011. hal 502
[4]
As-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-ilmu
Al-qur’an. Jakarta: Penerbit pustaka Firdaus, 1990. Hal 411
[5] Dr. Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus,
1990), hlm 412
[6]Baidan, Nashruddin. Perkembangan
Tafsir Alquran di Indonesia. Hal 9
[9]. Zuhdi, Achmad. Studi Al-Qur’an. Surabaya:Anggota IKAPI,
2011. hlm 545

Ma syaa Allah sangat bermanfaat sekali, tetap semangat ya💪, Barakallah ya ☺☺
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapusTerimakasih ilmunya bermanfaat sekali, ditunggu karya berikutnya semangat trus yaa
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat, samangat teruss��
BalasHapusMakalahnya sangat bagus,
BalasHapussangat bermanfaat untuk para pembaca, smoga untuk makalah selanjutnya bisa lebih baik lagii
semangatt mufidah💪🏻
terimakasih, sangat bermanfaat dan membantu
BalasHapusBarakallah semoga bermanfaat bagi kita semua dan lebih baik kedepannya.amiiin😊
BalasHapusBarokallah
BalasHapusSangat bermanfaat
Mudah mudahan tambah baik kedepannya
Sukses dan semangat selalu☺️
Webnya sudah bagus ... semoga kedepannya bisa lebih baguss lagi .semoga ilmunya barokah dan bermanfaat ... semangat terus
BalasHapusMakalahnya sudah bagus, terimakasih atas ilmu yang sudah kamu amalkan. Semoga bermanfaat. Aamiin.... Terus semangat, jangan lupa berdo'a dan yakinlah jika orang lain bisa maka kamu juga termasuk bisa👍🏻👍🏻😊
BalasHapus
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
Terimakasih sudah membagikan ilmunya semoga ilmunya bermanfaat untuk semuanya 👌👍
BalasHapusTerima kasih ilmunya
BalasHapusBagus materinya. Mungkin perlu dilengkapi lagi. BarokahAllh.. Tetap semangat ya:)
BalasHapusSemoga bisa bermanfaat ilmu nya
BalasHapusSangat bermanfaat bagi pembaca. Materi sangat mudah di pahami. Tetap semangat dan ditunggu karya berikutnya
BalasHapusalhamdulillah...materi yang disampakan menambah pengetahuan saya, semoga bermanfaat bagi semua orang :))
BalasHapusSubhanallah,sangat menambah ilmu pengetahuan saya.dan semoga lebih
BalasHapusBaik lagi untuk kedepannya.
Terima kasih ilmunya, sangat membantu dan semoga bermanfaat
BalasHapusTerimakasi alhamdulillah sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih ilmunya semoga bermanfaat
BalasHapusTerimakasih Dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita telah ambil ilmu dari blog ini. Semoga Ini menjadi perubahan menuju pendidikan yang lebih baik..
BalasHapusalhamdulillah bermanfaat ilmunya terimakasih
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusMakalah yg menarik, semoga dpt membantu kita sebagai penuntut ilmu :)
BalasHapusMaterinya menarik semoga bermanfaat:v
BalasHapusMenarik sekali dan good, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca yang lain juga. :)
BalasHapusbagus materinya, semoga bermanfaat (;
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSangat membantu sekalii :) inti-inti materi yang lengkap dan menyeluruh :D 👌
BalasHapusTerimakasih ilmunya bermanfaat sekali, tetep semangat, ditunggu karya berikutnya.
BalasHapusTerima kasih sudah menambah ilmu baru bagi saya. 😊
BalasHapusTerimakasih ini ilmu baru untuk saya semoga bermanfaat
BalasHapusMakalahnya sangat membantu untuk mempelajari ilmu di dalam al-quran, Terima kasih sukses selalu
BalasHapusAlhamdulillah sangat membantu untuk menambah wawasan saya, dan materi-nya mudah difahami juga dimengerti. Penjabaran yg luas serta penjelasan yg singkat. Insyaallah semoga ilmu bermanfaat untuk orang lain.
BalasHapusSemangat terus belajar dan berproses di KPI yaaa. Ukir prestasi, jangan nyerah!
BalasHapusCingrat pida buat firat karyanya
BalasHapusWes buaik karyane
Semoga lebih banyak, lebih bagus lagi buat karya2 selnjutnya
Sukses da.amin
Semangat untuk berperoses ditunggu untuk ilmu selanjutnya ..
BalasHapusUdah bagus..
BalasHapusBisa buat refrensi skripsi
Tingkatkan.. semoga suksess ya.
Membantu banget, bisa dijadiin referensi pembelajaran. Semangat yaa
BalasHapusMateri dalam makalah tersebut cukup lengkap dan bisa menambah ilmu baru untuk saya, semangat untuk membagi ilmu ilmu baru lainnya.
BalasHapusSangat membantu, semoga banyak membantu untuk yang lain!!
BalasHapusAlhamdulillah dapat ilmu baru,, semoga bermanfaat bagi kita yang membutuhkan
BalasHapusSemoga sukses tugasnya...jangan lupa bahagia ya ngerjain tugasnya
BalasHapusMasyaallah sangat bermanfaat sekali tulisannya, semoga kedepannya lebih baik lagi:) semangat💪💪
BalasHapusAlhamdulillah ilmunya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusAlhamdulillah bermanfaat ilmunya ..semoga kedepannya lebih baik lagi
BalasHapusAlhamdulillah. Ilmunya bermanfaat sekali untuk menambah wawasan tentang perkembangan tafsir Al quran
BalasHapusMasya Allah, makalah nya bagus sekali. Lengkap banget. Jdi bisa lebih tau lagi tentang tafsir Al Quran
BalasHapusalhamdulillah, bisa membantu dalam pengerjaan tugas serta menambah wawasan
BalasHapustabarakallah💖