Senin, 19 April 2021

 

Dakwah Dalam Antar Etnik, Ras, Dan Bangsa

Negara Indonesia terbentuk dari berbagai ragam kelompok suku, etnis, budaya, bahasa, agama dan lain-lain. Dengan keragaman tersebut bangsa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai "multikultural". Multikulturalisme merupakan paradigma yang menganggap adanya kesetaraan antar ekspresi budaya yang plural. Multikulturalisme mengusung kesadaran sosial kehidupan masyarakat terdapat keragaman budaya. Kesadaran tersebut berdimensi etis yang menuntut tanggungjawab yang terarah pada ortopraksis (tindakan baik dan benar), yang selanjutnya terwujud ke dalam berbagai bentuk penghargaan, penghormatan, perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengakuan akan eksistensi terhadap sesama.

Penanaman pemahaman tentang multikultural bertujuan untuk menghilangkan prasangka, menimbulkan dialog, mengenal perbedaan sehingga timbul rasa saling menghargai dan mengapresiasi. Dari sini diharapkan akan muncul modal kultural suatu bangsa karena bangsa yang kehilangan modal kultural akan sangat rawan perpecahan. Modal kultural lahir dari kekayaan kearifan lokal bangsa yang jika diangkat bisa menjadi kekuatan yang sangat besar. Dalam konteks Indonesia yang amat majemuk, penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Multikulturalisme dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang mengajak melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama manusia, saling menghargai dan menghormati, kompetisi sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya ternyata bukan hanya monopoli khotbah Sang Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh di podium, para politisi dalam kampanye pemilu atau sikap biksu dan pendeta bijak pada keyakinan dan ajaran-ajaran agama yang berbeda. Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu masyarakat tidak hanya monopoli kaum primitif yang hidup di hutan nan jauh dari keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya. Apalagi di era teknologi informasi sekarang, batas-batas budaya, baik secara sosiologis maupun geografi sudah sulit untuk dibatasi dan memudahkan untuk berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu jalan untuk menyikapinya atas kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap mengakui kenyataan tersebut, saling mengenal dan bekerjasama dalam memelihara kehidupannya. Demikan pula dalam dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas dakwah pada era sekarang dituntut melakukan upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah yang lebih bisa mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat dan berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, seharusnya dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan terus-menerus (continue) dan terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah.[1]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS REVIEW

Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang berbeda. Dalam konteks secara luas diartikan sebagai antar budaya bangsa, suku dan ras. Misalnya antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, antara suku sunda dengan suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam konteks individu bisa diartikan proses komunikasi antar dua kepribadian yang mempunyai perbedaan kebiasaan. Dalam komunikasi anatarbudaya ini rawan konflik karena memiliki pengertian atau makna yang berbeda mengenai suatu perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya tertentu bersendawa merupakan suatu bentuk pujian terhadap makanan yang enak, namun dalam budaya bangsa lain  itu adalah sebuah ketidak sopanan. Maka dari itu sering terjadi salah persepsi diantara dua orang atau dua kelompok dengan latar belakang budaya yang berbeda. Solusinya kita harus mempelajari budaya setempat dan tingkatan tenggang rasa (toleransi).

Bentuk-bentuk komunikasi dalam konteks ilmu lainnya, yaitu :

1.      Komunikasi politik, proses komunikasi yang dilakukan dalam konteks perpolitikan

2.      Komunikasi kesehatan, proses komunikasi yang terjadi dalam konteks paramedic

3.      Komunikasi terapetik, proses komunikasi yang bukan hanya dalam konteks paramedic saja namun ada pula yang disebut dengan tarapis nonformal seperti tukang pijit, pengobatan alternatif , perawat dan sebagainya. Jadi komunikasi terapis adalah komunikasi dalam konteks terapis dan pasiennya.

4.      Komunikasi dakwah, kalau dalam ilmu dakwah dikatakan bahwa komunikasi adalah bagian dari dakwah, akan tetapi dari perspektif ilmu komunikasi, dakwah itu adalah salah satu metode komunikasi. Jadi komunikasi dakwah adalah proses komunikasi dalam usaha menyampaikan pesan atau nilai-nilai Islam kepada umat manusia

5.      Komunikasi krisis dan bencana, proses komunikasi dalam menghadapi dan menanggulangi krisis dan bencana

6.      Komunikasi transcendental, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit  baik di buku maupun di kelas.komunikasi transcendental merupakan proses komunikasi yang terjadi antara manusia (hamba) dengan Tuhannya. Alur komunikasinya satu arah seperti sembayang, sholat dan berdo’a. komunikasi ini biasa dikenal sebagai komunikasi untuk meminta dan memohon.

7.      Komunikasi spiritual, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit dalam textbook ilmu komunikasi. Komunikasi spiritual merupakan proses komunikasi yang melibatkan unsur spiritual (rasa). Memiliki alur dua arah dan juga merupakan proses komunikasi pada tahap yang lebih tinggi, yaitu untuk mencapa konektifitas yang solid dengan Sang Pencipta dan ciptaannya yang lain.

8.      Komunikasi spranatura;, komunikasi yang tidak perlu dipelajari cukup diketahui saja karena merupakan komunikasi yang lebih ke unsur negative. Seperti seorang dukun yang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.

Maka dari itu berkomunikasilah yang positif sejak dari dalam pikiran hingga ucapan sehingga energi positif kita akan menyebar kealam semesta menjadi positif juga.[2]

Keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

1.      keberagaman dalam masyarakat Indonesia

a.       faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia

keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa ras agama keyakinan ideologi politik sosial budaya ekonomi dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa

b.      Keberagaman suku bangsa dan budaya

keberagaman bangsa Indonesia terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010 di Indonesia terdapat 1128 suku bangsa, antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia

c.       Keberagaman agama dan kepercayaan

di mana di negara kita Terdapat 6 agama dan kepercayaan

d.      Keberagaman ras

ras adalah warna kulit, ada mongoloid dan Negroid ada Melanesoid kalau kita kebagian kulit sawo matang.

Dari disini ada faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia adalah keberagaman suku bangsa dan budaya ada keberagaman agama dan kepercayaan dan juga keberagaman ras atau warna kulit.

2.      Arti penting memahami keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika

keberagaman suku bangsa budaya ras agama dan antargolongan menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia kita tidak hanya memiliki keindahan alam tetapi juga keindahan dalam keberagaman masyarakat Indonesia

3.      Perilaku toleransi terhadap keberagaman suku agama, ras dan antargolongan

Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap sabar membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapun agamanya suku, golongan, ideologi atau pandangannya [3]

Toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi orang lain) yang tidak Anda sukai. Anda tidak menyukainya karena ini berbeda dengan apa yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai dengan nilai yang Anda pegang atau tradisi tempat Anda dibesarkan. Terkadang Anda harus hidup dengan hal semacam itu agar Anda tidak mengalami kesulitan atau agar Anda memahami penyebabnya yang membuat orang lain melakukan apa yang tidak Anda sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam situasinya konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak toleransi tidak kalah berbahayanya. Ini dapat mengakumulasi ketidakpuasan hingga ke titik tak tertahankan yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih besar. Selain itu, toleransi sebenarnya merupakan langkah parsial pembuktian dalam hubungannya dengan hidup bersama. Seseorang tidak bisa mentolerir setiap hari, kecuali sangat sedikit orang. Seseorang mungkin bertoleransi dalam waktu yang lebih lama daripada yang lain, tetapi selalu ada batasan yang tidak dapat dilampaui. Tidaklah mudah untuk menetapkan batasan dimana kebebasan dan batasan manusia harus diakhiri. tetapi pada saat yang sama mereka menjamin penerapannya atau lebih baik memberikan ruang yang adil bagi individu untuk menggunakan kebebasan mereka. Tanpa mereka akan ada hukum "survival of the fittest" Atau, beberapa anggota komunitas atau ras manusia mungkin lebih mengutamakan kebebasan, sedangkan yang lain hanya memiliki ruang sempit untuk menjelajah, atau bahkan beberapa individu yang berkuasa mengambil alih ruang sehingga tidak memberi ruang bagi orang lain.Perkembangan dunia kita tidak memberi ruang bagi sekelompok orang untuk hidup terpisah-pisah dari orang lain. Komunitas berkembang menjadi masyarakat majemuk di mana orang-orang hidup dari berbagai latar belakang, agama, budaya, dan lain-lain. Satu-satunya pilihan yang kita miliki dalam situasi seperti ini adalah hidup bersama. Ini berarti bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat ditinggalkan atau diabaikan dalam menjamin keberadaan masyarakat mana pun. Penggunaan kekuasaan dan paksaan hanya akan menghancurkan masyarakat. Itu akan menyebabkan dendam dan kebencian yang membuat bumi tidak menyenangkan untuk ditinggali. Agama harus dihadirkan sebagai berkah bagi umat manusia karena harus memberikan pedoman hidup dan cita-cita yang harus diarahkan.[4]

 

 

 



[1] Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto KOMUNIKA ISSN: 1978-1261 Vol.6No.1Januari -  Juni 2012 pp.

[2] Channel youtube Betty Tresnawaty, Ragam Bentuk Komunikasi, 2020

[3] Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021

[4] Channel youtube Gery Ayatullah E. Religious tolerance, 2 Maret 2021

Senin, 05 April 2021


FUNGSI, TUJUAN DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA


Dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya yaitu konsep kebudayaan dan konsep komunikasi. Budaya mempengaruhi komunikasi dan gilirannya komunikasi turut menentukan, menciptakan dan memelihara realitas budaya. Budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang dan bagaimana komunikasi berlangsung, budaya juga turut menentukan bagaimana orang menyampaikan pesan.

Tujuan dakwah dalam komunikasi antarbudaya adalah menjadikan islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain. dapat mencegah terjadi konflik keagamaan dalam masyarakat. Pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan sejatinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud dialog internal umat beragama serta sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.

    Fungsi dakwah dalam komunikasi antarbudaya ini adalah mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran islam kepada budaya masyarakat, menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya, dan mengawasi praktik komunikasi antar budaya yang antara komunikator dan komunikan berbeda kebudayaan.

    Peranan dakwah dalam komunikasi antar budaya. Kehadiran dakwah di tengah umat harus mampu mendorong terjadinya sebuah perubahan nyata kepada umat baik dalam apek pikir( pemahaman) maupun perilakunya, sebab ending terbesar dari dakwah adalah mengeluarkan manusia dari situasi kegelapan dan kemunduran menuju cahaya islam yang berkemajuan dilandasi dengan nilai-nilai tauhid. Seorang da'i harus mampu berdialog dengan kebudayaan modern dan secara aktif mengisi dengan substansi dan nuansa-nuansa islam. Hal ini bisa dilakukan bila kita memahami arus globalisasi secara benar dan tidak tertinggal dengan informasi aktual dari mancanegara.Dengan keberhasilan dakwah dalam mewujudkan peranan sosial, maka dengan sendirinya ajaran islam diyakini tidak hanya mengarahkan umatnya untuk meraih kehidupan akhirat dengan sukses. Ajaran islam tidak pula mengenal adanya pemisahan antara hidup dunia dan akhirat, bahkan doktrin islam menganggap kehidupan dunia adalah sarana untuk ibadah dalam upaya menggapai kebahagian akhirat.




MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH

KPI A2 (B71219066)

https://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQTU7dOL9qM/view?usp=drivesdkhttps://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQT...