ABSTRAK
Manusia
senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh timbal balik dengan manusia yang
lain dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Manusia
merupakan makhluk yang tak berdaya karena dilengkapi dengan naluri yang relatif
tidak lengkap. Oleh sebab itu manusia kemudian mengembangkan kebudayaan untuk
mengisi kekosongan yang tidak diisi oleh naluri. Pengembangan kebudayaan ini
dilakukan dengan proses interaksi sosial. Menurut Cooley konsep diri seseorang
untuk berekambang ialah melalui interaksi dengan orang lain. Interaksi
sosial adalah hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada
reaksi. Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs kelompok.
Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar merupakan contoh interaksi
sosial antara individu dengan kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat
yaitu Kontak Sosial dan Komunikasi Sosial.
Interaksi
sosial merupakan bentuk dari dinamika sosial budaya yang ada didalam
masyarakat. Dengan demikian, dengan interaksi sosial akan memungkinkan
terjadinya perubahan-perubahan didalam masyarakat yang akan membentuk hal-hal
yang baru yang membuat dinamika masyarakat menjadi hidup. Perubahan-perubahan
ini akan terjadi sambung-menyambung dari generasi yang satu ke generasi
berikutnya sepanjang zaman.
Dalam interaksi
di jumpai beberapa aturan tertentu dalam hal penggunaan ruang. Didalam
masyarakat pasti memiliki pedoman prilaku anggota- anggota masyarakat agar
kehidupan sosial menjadi tertib. Akan tetapi untuk mencapai kehidupan yang
tertib atas dasar nilai-nilai dan norma-norma sosial ini tidaklah semudah
membalikan telapak tangan. Ada sebagian anggota masyarakat yang berprilaku
tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma sosial. Untuk itulah diperlukan
proses pengenalan tatanan nilai-nilai dan norma sosial tersebut. Proses
sosialisasi akan mempermudah untuk mengenal norma- norma sosial. Karena
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, tanpa interkasi
sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.
Kata kunci : Interaksi
Sosial dan Proses Sosialisasi
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL
Menurut Gilin, interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis
antara individu dengan individu lain atau dengan kelompok atau hubungan antar
kelompok. Hubungan ini tercipta karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup
tanpa orang lain. Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas
sosial. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu.
Mereka saling menegur, berjabat tangan, berbincang-bincang, bahkan berselisih.
Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan interaksi sosial.
Walapun orang-orang yang bertemu muka tidak saling berbicara atau tidak
saling melakukan ekspresi dengan bahasa tubuh, interaksi sosial telah terjadi.
Masing - masing akan sadar adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan - perubahan
dalam perasaan maupun syaraf orang- orang yang bersangkutan. Hal ini disebabkan
oleh, misalnya bau keringat, minyak wangi, suara berjalan, dan sebagainya.
Semuanya itu menimbulkan kesan didalam pikiran seseorang yang kemudian
menentukan tindakan apa yang akan dilakukannya.
Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan beberapa pendekatan. Salah
satunya adalah pendekatan interaksionisme simbolik yang dikemukakan oleh
Herbert Blumer. Menurut Blumer, adanya interaksi antara seseorang dan orang lain akan memunculkan makna
(meaning) tertentu.
Ada tiga pokok pikiran dari teori interaksionisme simbolik, yaitu
pertama, manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dimiliki
Sesutu tersebut baginya. Kedua, makna yang dimiliki sesuatu tersebut muncul
dari interaksi sosial seseorang dengan sesame. Ketiga, makna diperlakukan atau
diubah melalui proses penafsiran.
Interaksi merupakan proses timbal balik, di mana suatu kelompok
dipengaruhi tingkah laku reaktif pihak lain. Dengan demikian, ia memengaruhi
tingkah laku orang lain. Seseorang memengaruhi tingkah laku orang lain melalui
kontak. Kontak dapat berupa kontak fisik langsung maupun tidak langsung.
B. SYARAT-SYARAT INTERAKSI SOSIAL
Syarat – syarat terjadinya interaksi sosial adalah sebagai berikut:
1. Kontak Sosial
Kata kontak berasal dari Bahasa Latin Con dan tangere. Con
artinya bersama-sama, dan tangere artinya menyentuh.
Untuk dapat memahami bentuk-bentuk kontak sosial yang terjadi maka kita
dapat membedakan kontak sosial sebagai berikut:
a. Berdasarkan cara terjadinya kontak sosial
1) Kontak langsung
Kontak yang terjadinya antara pelaku dengan tidak
menggunakan media atau alat orang lain. Contohnya seperti berjabat tangan,
mengobrol, dan sebagainya.
2) Kontak secara tidak langsung
Kontak yang terjadinya pelaku dengan menggunakan media
atau alat orang lain. Contohnya penyampaian pesan melalui radio atau televisi.
b. Berdasarkan terjadinya proses komunikasi
1) Kontak primer
Kontak yang terjadi langsung dengan cara bertatap muka
2) Kontak sekunder
Kontak yang terjadi melalui perantara atau alat
tertentu.
2. Komunikasi
Secara etimologi kata komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicare
yang artinya berhubungan. Komunikasi yaitu penyampaian pesan dari
komunikator ke komunikan dam memiliki timbal balik.
Kontak dan komunikasi merupakan awal terjadinya interaksi sosial,
interaksi tidak mungkin terjadi bila sebelumnya tidak ada kontak dan komunikasi.
Kontak dan komunikasi sama-sama memiliki tujuan yaitu untuk menciptakan kerja
sama dan kesamaan tujuan yang dimaksud oleh kedua belah pihak yang melakukan
interaksi.
C. BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Terdapat dua
macam proses sosial yang terjadi karena interaksi sosial, yaitu:
1. Proses Sosial yang asosiatif
a. Bekerja sama (Cooperation)
Kerja sama timbul apabila pada saat orang menyadari bahwa mereka
memiliki kepentingan yang sama, dan pada saat yang sama itu pula ia mempunyai
cukup pengetahuan dan pengendalian diri sendiri untuk memenuhi kepentingannya. Contohnya,
di Indonesia kita mengenal kerja sama dalam bentuk tradisional yaitu gotong
royong.
b. Akomodasi
Akomodasi merupakan suatu cara guna menyelesaikan permasalahan tanpa
menghancurkan pihak lawan sehingga pihak lawan tesebut tidak kehilangan
kepribadiannya.
Tujuan dari akomodasi adalah sebagai berikut:
1) Mengurangi pertentangan antar orang perorangan atau kelompok yang saling
berselisih.
2) Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu.
3) Memungkinkan terjadinya kerja sama antar kelompok-kelompok sosial.
4) Mengupayakan peleburan antar kelompok-kelompok sosial.
c. Asimilasi
Dalam proses
asimilasi setiap individu mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan atau
tujuan kelompoknya. Apabila dua kelompok mengadakan asimilasi , maka batas
antara dua kelompok itu hilang, keduanya menjadi satu kelompok.
Kelompok-kelompok tadi ialah kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda
kebudayaanya.
Terdapat
beberapa faktor yang mempermudah terjadinya asimilasi, misalnya perkawinan
campuran (amalgamasi), toleransi, keseimbangan kesempatan di bidang ekonomi,
persamaan dalam unsur-unsur budaya, sikap keterbukaan, saling menghargai dan
adanya musuh bersama dari luar.
d. Akulturasi
Proses sosial yang timbul jika suatu masyarakat dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing, sehingga unsur-unsur
kebudayaan asing itu lambat laun dilemma dan diolah dalam kebudayaan sendiri tanpa
menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.
2. Proses Sosial yang Disasosiatif
Processes of
dissociation atau proses sosial disosiatif sering disebut juga yang
oposisional. Terdapat tiga bentuk oposisi:
a.
Kompetisi
(competition) atau persaingan
Kompetisi atau
persaingan merupakan proses sosial yang interaksi sosialnya ditandai dengan
adanya orang perseorangan atau kelompok manusia yang bersaing untuk mencari
keuntungan tertentu yang pada saat itu menjadi perhatian perseorangan atau
publik dengan cara atau usaha yang menarik, mempertajam prasangka, tanpa
menggunakan kekerasan dan ada persaingan pribadi serta persaingan kelompok.
Contoh
bentuk-bentuk persaingan antara lain; persaingan dalam perekonomian, persaingan
kebudayaan, persaingan kedudukan dan peran serta persaingan ras.
b.
Contravention
(kontravensi)
Kontraversi
merupakan suatu sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain atau terhadap
unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi
kebencian, namun belum sampai pada tingkat pertentangan. Contravention dapat
berupa perbuatan seperti, perlawanan, penolakan, keengganan, menghalangi
protes, gangguan-gangguan, ataupun perbuatan-perbuatan yang mengacaukan rencana
pihak lain.
c.
Conflict
(pertentangan)
Konflik merupakan
salah satu interaksi sosial dalam suatu proses sosial individu atau kelompok
manusia untuk mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang
disertai dengan ancaman atau kekerasan.
Konflik dapat
disebabkan oleh adanya perbedaan indvidual yang menyebabkan timbulnya
pertentangan perseorangan, perbedaan kebudayaan yang menyeba-babkan perbedaan
antara kelompok, bentrokan kepentingan dan perubahan sosial yang cepat merubah
nilai-nilai dalam masyarakat berakibat pada munculnya kelompok-kelompok yang
memiliki perbedaan yang berbeda-beda dalam reorganisasi sistem nilai yang pada
gilirannya menyebabkan disorganisasi dalam masyarakat.
d. Diferensiasi (differentiation)
Differensiasi
merupakan suatu proses individu di dalam masyarakat yang memperoleh hak dan
kewajiban yang berbeda dalam masyarakat. Differensiasi dapat didasarkan pada
umur, jenis kelamin atau profesi. Differensiasi dapat menghasilkan sistem
pelapisan dalam masyarakat bahkan polarisasi atau pemisahan.
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI PROSES INTERAKSI SOSIAL
1. Imitasi
Imitasi adalah suatu tindakan meniru sikap
dan perilaku orang lain, misalnya gaya berbicara, tingkah laku, kebiasaan dan
lain-lain.
2. Sugesti
Sugesti adalah suatu anjuran yang diberikan
seseorang yang menyebabkan reaksi langsung dan tanpa pikir panjang orang lain
menerima atau mengikuti anjuran tersebut. Proses sugesti bisa terjadi bila yang
memberikan pandangan adalah orang yang berwibawa, yang memiliki sifat otoriter.
3. Identifikasi
Identifikasi adalah kecenderungan seseorang
ingin sama dengan perilaku orang lain yang menjadi idolanya. Contoh, seorang
anak biasanya akan mengidentifikasi gaya dan perilaku orang tuanya.
4. Simpati
Merupakan suatu proses seseorang yang
merasa tertarik pada pihak lain. Contoh perasaan simpati adalah ungkapan
selamat atas keberhasilan seseorang, atau ungkapan turut berduka cita atas
musibah yang dialami seseorang.
5. Empati
Empati adalah kemampuan mengambil atau
memainkan perasaan secara efektif dari seseorang atau orang lain dalam kondisi
yang sebenar-benarnya, seolah-olah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang
lain.
6. Motivasi
Motivasi adalah suatu dorongan kehendak
yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan
tertentu. Contoh seorang guru memberikan m
tivasi kepada murid-muridnya untuk belajar
lebih giat agar mencapai prestasi.
E. INTERAKSI SOSIAL SEBAGAI PROSES SOSIAL
1. Kaitan Interaksi Sosial dan Proses Sosial
Pada dasarnya, hakikat interaksi terletak pada kesadaran mengarahkan
tindakan kepada orang lain. Selain itu, interaksi sosial muncul karena adanya
orientasi timbal balik antara pihak-pihak yang bersangkutan tanpa menghiraukan
maksud perbuatannya, seperti cinta atau benci, kesetiaan atau penghianatan, dan
melukai atau menolong.
Dalam interaksi sosial terdapat hubungan antarindividu yang menghasilkan
reaksi timbal balik. Hubungan-hubungan tersebut melahirkan suatu pola yang
menarik. Hal inilah yang mendorong para sosiolog mengkaji masalah ini. Menurut
para sosiolog, pengetahuan mengenai cara-cara berhubungan antaranggota
masyarakat dapat membantu dalam memahami masyarakat itu sendiri.
Berdasarkan kajian tersebut, ditemukan adanya proses sosial di
masyarakat. Menurut Gillin dan Gillin, proses sosial adalah cara-cara
berhubungan yang dapat dilihat apabila antarindividu dan kelompok-kelompok
manusia saling bertemu kemudian menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan
tersebut.
Dengan begitu, hubungan-hubungan yang ada dalam kehidupan manusia
merupakan suatu proses. Hal ini karena hubungan antarindividu merupakan syarat
utama terjadinya aktivitas sosial. Aktivitas-aktivitas sosial itulah yang
menjadi dasar terbentuknya proses sosial.
2. Pengaruh Interaksi Sosial terhadap Keselarasan Sosial
Keteraturan sosial merupakan suatu kondisi yang sendi-sendi kehidupan
bermasyarakatnya berjalan tertib dan teratur sehingga tujuan kehidupan
bermasyarakat dapat tercapai.
Pada interaksi sosial terjalin hubungan erat yang akan menciptakan
keselarasan sosial. Oleh karena itu, interaksi sosial berpengaruh besar
terhadap terbentuknya keselarasan sosial masyarakat yang bersangkutan. Melalui
interaksi sosial, manusia saling bekerja sama, menghargai, menghormati, hidup
rukun, dan gotong royong. Sikap-sikap tersebut mampu menciptakan keteraturan
dan ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat yang mendorong munculnya
keselarasan sosial.
KESIMPULAN
Interaksi sosial juga merupakan proses sosial karena pada hakikatnya
manusia perlu membutuhkan interaksi dengan sesama manusia. Terdapat banyak
proses sosial yang terjadi di masyarakat. Hal ini karena setiap manusia
melakukan interaksi yang dapat membentuk proses sosial. Terlebih dilingkungan
negara kita. Proses sosial yang terjadi melibatkan berbagai kalangan dan
lapisan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Rostini, Titin. Sosiologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional, 2009.
Waluyo, dkk. Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: PT Grasindo, 1977.
Susilowarno, Gunawan. Ujian Nasional 2008. Jakarta: PT Grasindo, 2008.