Rabu, 02 Oktober 2019

Perkembangan Tafsir Al-qur'an



MAKALAH MATA KULIAH 
STUDI AL-QURAN
PERKEMBANGAN TAFSIR AL-QURAN


DOSEN PENGAMPU:
Prof. Dr. MOH ALI AZIZ, M.Ag.

OLEH:
MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH
NIM : B71219066

PROGRAM STUDI

KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL 
SURABAYA 
2019





KATA PENGANTAR

 Pertama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Tujuan  pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Studi al-Quran. Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag selaku dosen mata kuliah Studi al-Quran, yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini.    Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena itu, saran dan kritik yang membangun senantiasa saya harapkan demi perbaikan makalah ini di masa mendatang. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca .

Surabaya, 26 Agustus 2019
Mufidah Nurul Alawiyyah

DAFTAR ISI



Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I (Pembahasan )…………………….………4
                             A.     Tafsir pada Masa Nabi ..........................4
                             B.     Tafsir pada Masa Sahabat .....................8
                             C.     Tafsir pada Masa Tabi’in ......................22
BAB II (       Penutup)………………...…………….................28
                             A. Kesimpulan………………………….….28
                     Daftar Pustaka……………..………..……....….32



BAB I
PEMBAHASAN

                         1.   Tafsir Pada masa Nabi

Pertumbuhan tafsir, dimulai sejak hidupnya Rasulullah yaitu orang yang pertama kali menguraikan kitab Alquran atau 
menjelaskan wahyu Allah kepada umatnya. Kalau ada masalah yang muncul dari umatnya, Nabi saw. Dapat menjelaskan 
masalah tersebut secara langsung. Dengan demikian, pada zaman Nabi/ Rasulullah semua persoalan dapat diatasi oleh Nabi. 
memberikan jaminan kepada Rasul-Nya bahwa dialah yang “bertanggung jawab” melindungi Al-Qur’an dan 
menjelaskannya, “sesungguhnya atas tanggungan Kamilah menghimpunnya”(di dadamu) dan (membuatmu pandai) 
membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas 
tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 17-19)[1]
Nabi memahami Al-Qur’an dengan sempurna baik secara global dan terperinci. Dan tugasnya adalah menerangkannya 
kepada para sahabat.Ada dua jenis interpretasi oleh Nabi saw yaitu praktis dan ekspositoris. Interpretasi praktis adalah 
bentuk  interpretasi dimana Nabi saw mempraktekkan instruksi al-Quran. Sedangkan interpretasi ekspositoris adalah 
interpretasi dimana  Nabi saw menjelaskan apa yang dimaksud ayat tertentu. Interpretasi ‘praktis’ dapat disebut ‘tidak 
langsung’, sedangkan intrepretasi ‘ekspositoris’ bisa disebut ‘langsung’. Dan sebagian besar penafsiran Nabi saw 
kepada para pengikutnya adalah jenis interpretasi praktis.
   Contoh        interpretasi [2]‘ekspositoris’ atau langsung adalah definisi Nabi saw tentang kata miskin yang mengambil 
    referensi dari Q.S. al-Baqarah: 273;

لۡفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ
“o         orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi;
            orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kayak arena memelihara diri dari minta-minta. 
           Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak”
Contoh interpretasi praktis atau ‘tidak langsung’ adalah tatacara salat. Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk 
melakukan salat tetapi tidak memberikan rincian tentang bagaimana melaksanakannya.Nabi saw mengajarkan 
pengikutnya bagaimana melakukan salat dengan melakukan sendiri (melalui sikap/Hadis/fi’ly).Demikian juga tentang 
perintah untuk membayar zakat, Nabi saw. Menempatkan pengajarannya dalam praktek dengan menerapkan sistem zakat
melalui instruksi.
Apa yang terlihat dalam penafsiran Nabi saw (sebagaimana dilaporkan dalam Hadith) adalah bahwa biasanya tidak ada
analisis sistematis (linguistic atau lainnya) dari teks yang diuraikan. Nabi saw lebih tertarik dalam menyampaikan 
implikasi praktis dari Al-quran itu diterapkan pada suatu keadaan tertentu.
Hubungan antara Nabi saw dengan Al-quran intim dan timbal balik. Firman Allah telah diberikan dalam bahasa 
manusia, yaitu bahasa Arab, melalui media Nabi, yang adalah dirinya sendiri.[3]
               Disinilah letak keunikan penafsiran Nabi saw karena beliau mendapatkan pengalaman dan keterlibatan mendalam 
dengan ‘kata’ yang memberinya wewenang untuk menafsirkan Al-quran.

2.      Tafsir pada Masa Sahabat
Ahli tafsir dikalangan para sahabat Nabi banyak jumlahnya, tapi yang terkenal luas hanyalah 10 orang, empat orang 
Khulafa Rasyidun, yakni Abu Bakar ash-Shiddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib – 
radhiyallahu ‘anhum. Selain mereka terkenal juga nama nama: Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, 
Zaid bin tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin zubair. [4]

                 Dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka.Cukup banyak riwayat riwayat tafsir bil 

ma’tsur yang dinisbatkan kepada mereka dan sahabat lainnya yang tentu saja berbeda-beda derajat ke-shahih-an 
dank e-dha’if-annya dilihat dai sudut sanad.Diantara empat orang Khulafa Rasyidun, yang paling banyak disebut-sebut 
para ahli riwayat adalah ‘Ali bin Abi thalib’ – karamallahu wajhahu. Abu Nu’aim meriwayatkan di dalam al-Hilyah 
dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “Sesungguhnya Al-quran itu diturunkan sebanyak tujuh buah huruf. 
Setiap huruf mengandung makna lahir dan batin. Dan sesungguhnya Ali memiliki ilmu lahir dan ilmu batin itu.”[5] 
Adapun riwayat tiga orang khalifah lainnya – mengenai soal tafsir – sangat jarang,mungkin karena mereka itu wafat lebih 
dulu.
   Diantara sepuluh orang sahabat Nabi itu, yang paling tepat bergelar “ ahli tafsir al-Quran” ialah ‘Abdullah bin Abbas’, 
  kedalaman ilmunya disaksikan sendiri oleh rasulullah ketika beliau berdoa baginya: “ Ya Allah, limpahkanlah ilmu 
  agama yang mendalam kepadanya dan ajarkanlah ilmu ta’wil kepadanya.” Ibnu Abbas terkenal pula dengan Tarjumanul 
  Al-qur’an. Akan tetapi banyak orang yang menambah-nambah riwayat mengenai Ibnu Abbas. Diantara mereka ada 
  pula yang merendahkannya dan meremehkan ucapan-ucapannya, sehingga Imam Syafi’i sendiri mengatakan: “Tafsir yang 
  benar dari Ibnu Abbas hanya setara seratus Hadis.” 

                Diluar 10 orang tersebut diatas, terdapat nama-nama lain dikalangan para sahabat Nabi yang turut ambil bagian dalam 

 penafsiran al-Qur’an. Mereka itu adalah Abu Hurairah, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah dan 
 Ummul Mu’minin ‘Aisyah ra. Tapi tafsir yang diriwayatkan berasal dari mereka hanya sedikit saja jika dibanding dengan 
 tafsir yang berasal dari 10 orang tersebut diatas. [6]

                 Para sahabat dalam menafsirkan Al-  Qur’an pada masa dahulu berpegang pada:
1.     A        l. Al-Qur’an Al-Karim, sebab apa yang  dikemukakan secara global di satu tempat dijelaskan secara terperinci di tempat 
                     yang lain. Terkadang pula sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian disusul oleh ayat yang
                  lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah yang dinamakan “Tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.” Penafsiran
 seperti   ini cukup banyak contohnya. Misalnya, kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang ditampilkan secara ringkas di beberapa 
               tempat, kemudian di tempat lain datang uraiannya panjang lebar. Misalnya, “Dihalalkan bagimu binatang ternak kecuali 
                yang akan dibacakan kepadamu.....” (Al-Maidah: 1), dan “Diharamkan bagimu bangkai.....” (Al-Maidah: 3)
          
2                    2.     Nabi saw. Beliaulah pemberi penjelasan (penafsir) Al-Qur’an otoritatif. [7]
                 Ketika para sahabat mendapatkan kesulitan dalam memahami sesuatu ayat, mereka merujuk kepada Nabi.
Dari Ibnu Mas’ud diriwayatkan, ia berkata “Ketika turun ayat ini, orang-orang yang beriman dan tidak 
mencampuradukkan imannya dengan kezhaliman.....” (Al-An’am: 82), sangat meresahkan hati para sahabat. 
Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di  terhadap diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap 
dirinya?” Beliau menjawab “Kezhaliman disini bukanlah seperti yang kamu pahami. Tidaklah kamu mendengar 
apa yang dikatakan seorang hamba yang saleh.”
إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ
“ Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang besar.” (Luqman: 13). Kezhaliman yang dimaksud di sini, 
sesunguhnya syirik.
Demikian juga Rasulullah menjelaskan kepada mereka apa yang ia kehendaki ketika diperlukan. Dari Uqbah bin Amir, 
ia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah mengatakan membaca ayat di atas mimbar: ‘Siapkanlah untuk 
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu bisa.’ (Al-Anfal: 60). Ketahuilah ‘kekuatan’ disini adalah memanah.
Dari Anas, ia berkata, “Al-Kautsar adalah sungai yang diberikan Tuhan kepadaku di surga.”
Biasanya dalam kitab-kitab hadist, ada bab khusus yang memuat tentang tafsir bi al-ma’tsur yang bersumber dari 
Rasulullah,
وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ

“Dan kami tidaklah menurunkan kepadamu Kitab, melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang 
mereka perselisihkan dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)
              Diantara kandungan Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang tidak dapat diketahui takwilnya kecuali melalui penjelasan 
               Rasulullah. Misalnya, rincian tentang perintah dan larangan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah,

              “Ketahuilah, sungguh telah diturunkan kepadaku Al-Qur’an dan bersamanya pula sesuatu yang serupa dengannya....”

3.              Pemahaman dan ijtihad. Adalah para sahabat apabila tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah,             
m          mereka melakukan ijtihad.Ini mengingat mereka adalah orang-orang Arab asli yang sangat menguasai bahasa Arab, 
            memahaminya dengan baik dan mengetahui aspek-aspek ke-balaghah-an yang ada di dalamnya.Penafsiran Al-Qur’an  
            dari para sahabat Nabi diterima baik oleh para ulama dari kaum Tabi’in (generasi berikutnya) di berbagai daerah 
            Islam. Pada akhirnya muncullah kelompok-kelompok ahli tafsir di Mekah, di Madinah dan di Iraq. Mengenai mereka 
            itu Ibnu Taimiyyah berkata: “ Yang paling banyak mengetahui soal tafsir ialah orang-orang Mekah, karena mereka itu 
           sahabat-sahabat Ibnu abbas, seperti: Mujahid, Atha bin Abi Rayyah, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Said bin Jubair, Thawus 
           dan lain-lain. 
        Demikian juga mereka yang ada di (kufah) Iraq, yaitu sahabat-sahabat Abdullah bin Mas’ud. Yang di Madinah, seperti 
        Zaid bin AAslam yang menurunkan ilmunya kepada anaknya sendiri, Abdurrahman bin Zahid, dan kepada muridnya, 
        yaitu Malik bin Anas. Beberapa sahabat Nabi saw mengalami kesulitan memahami ayat-ayat tertentu. Salah satu 
       alasan bagi kesulitan ini mungkin adalah bahwa Al-quran itu dibaca dan diucapkan dalam dialek Quraysh, yang 
        diucapkan di Makkah dan daerah sekitarnya. Kesulitan kedua para sahabat dalam memahami beberapa referensi historis
         dari Al-quran, khususunya kisah-kisah para nabi (qasas al-anbiya’) dan bangsa di masa lalu.

          Penafsiran para sahabat ‘sering agak pribadi’, mereka menyatakan apa yang mereka pikir adalah arti yang paling sesuai 

     untuk teks. Dengan perluasan hegemoni Muslim yang dibangun sejak penaklukan abad pertama Hijriyah/ ketujuh Masehi., 
     konversi ke Islam dari agama lain mulai terjadi dalam skala besar. [8]Wafatnya Nabi saw berarti bahwa umat Islam 
     baru harus bergantung pada sahabat terkemuka untuk pemahaman mereka tentang agama dan Al-quran. Sahabat yang 
    menetap di tempat-tempat seperti Irak, Suriah, Mesir dan Yaman, atau tetap di Makkah dan Madinah, menjadi eksponen 
      otoratif makna dari teks Al-quran.
  Tidak diragukan lagi Al-quran adalah sumber fundamental bagi agama baru, tetapi bagi pemeluk baru banyak yang tidak 
  mengalami zaman Nabi saw, dan yang datang dari latar belakang bahasa dan agama lain, sehingga sulit mengakses makna 
  Al-quran secara langsung. Karena itu, sahabat memainkan peran utama dalam memastikan bahwa teks dimengerti untuk 
  Muslim generasi baru, yang banyak diantaranya tidak mengetahui dialek Quraysh Arab.
   Dalam periode ekspansi yang cepat dari pengetahuan dan pemikiran di dunia islam pada awal abad kedua hijriyah/ 
    kedelapan Masehi, penafsiran Al-quran dapat digambarkan ‘mencair’. Perubahan tersebut disebabkan oleh empat 
   alasan utama yaitu: (1) daerah dengan berbagai perbedaan, campuran budaya dan perbedaan tingkat interaksi antara Muslim,
   Yahudi, Kristen dan Zoroastrian., (2) pendekatan individual dari sahabat dan tabi’in dengan penafsiran  dan penerapan 
   teks-teks kunci Al-quran dan Hadist, dan tingkat pengaplikasian yang kaku (3)  berbagai teks, khususnya teks Hadith yang
    tersedia hanya pada hal-hal tertentu, dan (4) perbedaan dalam memahami teks.
   Dalam konteks yang lebih luas pendekatan terhadap Al-quran oleh para sahabat terdapat dua kubu; kubu kontektualis yang
   popular dengan sebutan ahl al-qiyas (ahl ar-ra’y) dan kubu tekstualis yang dikenal dengan ahl al-Madinah 
   (ahl al-hadith) yang membatasi fleksibilitas pemahaman Al-quran.
   Para tektualis mengandalkan tiga prinsip dalam pendekatan tafsir mereka, yang mendasari pemahaman, interpretasi, 
    dan aplikasi aturan Al-quran pada kehidupan sehari-hari bagi individu dan masyarakat.

  Pertama, bahwa teks dianggap sebuah ketetapan, dan tujuan dasar untuk memahami Al-quran; kedua, bahwa banyak teks 
  di dalam Al-quran maupun Hadith yang menunjukkan, bahwa agama Islam telah sempurna, dalam arti, bahwa Al-quran 
  maupun hadith telah menyinggung semua aturan, baik yang bersifat individu, maupun sosial; ketiga, tidak diperlukan lagi
             adanya penelusuran lebih lanjut, klarifikasi, atau justifikai murni berdasarkan rasio. Maka sejak saat itu, peran akal sedikit demi
             sedikit terbatasi dalam memahami dan mengaplikasikan teks-teks suci, khususnya di wilayah Islam Sunni.
     Pendekatan kubu kontekstual berupaya untuk menciptakan keharmonisan antara teks dan ra’yu (aql). Tujuannya
                adalah untuk sistematisasi hukum dan kesatuan titik utama dalam komunitas muslim. Sementara tidak ada perselisihan
                antara dua trend pada Al-quran sebagai sumber hukum yang paling penting, namaun ada perbedaan tingkat fleksibilitas 

    yang harus ada dalam penggunaan rasio (ra’y) dalam interpretasi (tafsir) dan hukum. Sebuah media penting yang dianggap
    berguna dalam hal ini adalah qiyas (analogi). Qiyas adalah produk sampingan dari (ra’y) yang bertugas untuk memperluas 
    lingkup teks dan hukum, juga membantu menafsirkan dan menerapkan teks kedalam kehidupan masyarakat.  
   Dengan demikian, maka sumber penafsiran Al-quran pada masa sahabat antara lain; Al-quran, Hadith, ijtihad, dan 
   al-kitab. Penafsiran Al-quran pada masa sahabat ini telah terjadi penafsiran bi ar-ra’yi tetapi harus memiliki prasyarat 
    (kode etik) sebagai berikut;
1.                  Mengenal tata bahasa Arab
2.                  Mengenal budaya dan karakter Arab
3.                  Mengenal keberadaan kaum Yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab pada waktu turunnya Al-quran
4.                  Penguasaannya terhadap Al-quran termasuk asbab an nuzul.


3.      Tafsir pada Masa Tabi’in

Perkembangan tafsir Al-Qur’an sejak masa Nabi saw, para sahabat r.a, sampai dengan zaman kini, dapat diklasifikasikan 
ke dalam dua kategori; metodologis (manhaj), dan karakteristik/corak (lawn/naz’ah/ittijah). Secara metodologis, 
aktifitas penafsiran ditinjau dari sisi penafsirannya, cara penjelasannya, cara menentukan sasaran dan susunan 
ayat-ayat yang ditafsirkannya, serta keluasan penafsirannya. Sedangkan karakteristik penafsiran dapat ditelusuri 
dari sisi kecenderungan penafisr dalam menyajikan karya penafsirannya. Kalau dikalangan sahabat banyak yang 
dikenal pakar dalam bidang tafsir, dikalangan tabi’in  yang nota benenya menjadi murid mereka pun, banyak pakar dibidang
 tafsir.
Menurut Adz-Dzahabi, dalam memahami kitabullah, para mufasir dari kalangan tabi’in berpegang pada Al-quran itu, keterangan yang      mereka riwayatkan dari para sahabat yang berasal dari Rasulullah, penafsiran para sahabat, ada juga               yang mengambil dari Ahli Kitab yang bersumber dari isi kitab mereka.

Pada uraian di muka telah dikemukakan, tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para sahabat tidak mencakup semua ayat
                Al-Qur’an. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit dipahami bagi orang-orang yang semasa dengan mereka.                                 Kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahap di saat manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan sahabat.
               Maka para tabi’in yang menekuni bidang tafsir merasa perlu untuk menyempurnakan sebagian kekurangan ini. 

Karenanya mereka pun menambahkan kedalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan                         kekurangan tersebut. 

   Setelah itu muncullah generasi sesudah tabi’in, generasi ini pun berusaha menyempurnakan tafsir Al-Qur’an secara terus-m                             menerus dengan berdasarkan pada pengetahuan mereka atas bahasa Arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa yang                               terjadi pada masa turunnya Al-Qur’an yang mereka pandang valid dan pada alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian                                  lainnya.

Ketika penklukkan Islam semakin luas. Tokoh-tokoh sahabat terdorong berpindah ke daerah-daerah taklukan.  Mereka                               membawa ilmu masing-masing. Dari tangan mereka inilah tabi’in, murid mereka itu, belajar dan menimba ilmu, sehingga                                 selanjutnya tumbulah berbagai madzhab dan perguruan tafsir.
Di Makkah, misalnya, berdiri perguruan Ibnu Abbas. Di antara muridnya yang terkenal adalah Sa’id bin Jubair,                                                Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah. Mereka ini semuanya dari                                golongan maula (sahaya yang telah dibebaskan). Periwayatan tafsir dari Ibnu Abbas, yang sampai ke tangan murid-                                          muridnya itu tidak sama, ada yang sediit dan ada pula yang banyak, sebagaimana para ulama pun berbeda pendapat                                         mengenai kadar “keterpercayaan” dan kredibilitas mereka.
Dan yang mempunyai kelebihan diantara mereka tetapi mendapat sorotan adalah Ikrimah. Para ulama berbeda                                                     pandangan di sekitar penilaian terhadap kredibilitasnya meskipun mereka mengakui keilmuan dan keutamaannya.
Di Madinah, Ubay bin Ka’ab lebih terkenal dibidang tafsir dari orang lain.Pendapat-pendapatnya tentang tafsir banyak                                 dinukil generasi sesudahnya. Di antara muridnya dari kalangan tabi’in, ialah zaid bin Aslam, Abu Aliyahdan Muhammad                                   bin Ka’ab Al-Qurazhi.
Di Irak berdiri perguruan ibnu Mas’ud yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal madzhab ahli ra’yi. Dan                                    banyak pula tabi’in di irak dikenal dalam bidang tafsir. Yang masyhur diantaranya adalah Alqamah bin Qais, Masruq,                                        Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hazani, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Basri dan Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.

Itulah para mufassir terkenal dari kalangan tabi’in yang ada di berbagai wilayah Islam, dan dari mereka pulalah generasi                                setelah tabi’in belajar. Mereka telah mewariskan warisan ilmiah yang abadi kepada kita.
Para ulama berbeda pendapat tentang kualitas tafsir tabi’in jika tafsir tersebut bersifat independen, tidak                                                           diriwayatkan dari Rasulullah atau para sahabat, apakah para pendapat mereka itu dapat dipegangi atau tidak?
Segolongan ulama berpendapat, tafsir mereka tidak (harus) dijadikan pegangan, sebab mereka tidak menyaksikan                                           peristiwa-peristiwa, situasi atau kondisi yang berkenaan dengan turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga mereka bisa saja                               berbuat salah dalam memahami apa yang dimaksud. Sebaliknya, banyak mufassir berpendapat, tafsir mereka dapat dipegangi,                            sebab pada umunya mereka menerimanya dari para sahabat.
Pendapat yang kuat ialah jika para tabi’in sepakat atas sesuatu pendapat, maka bagi kita wajib menerimanya,                                                        tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil jalan yang lain.
Ibnu Taimiyah menukil pendapat, Syu’bah bin Al-Hajjaj dan lainnya katanya, “pendapat para tabi’in itu bukan hujjah.”                                     Maka bagaimana pula pendapat-pendapat tersebut dapat menjadi hujjah di bidang tafsir? Maksudnya, pendapat-pendapat                               itu tidak menjadi hujjah bagi orang lain yang tidak sependapat dengan mereka. Inilah pendapat yang benar. Namun jika                                     mereka sepakat atas sesuatu maka tidak diragukan lagi bahwa kesepakatan itu merupakan hujjah. Sebaliknya, jika mereka                              berbeda pendapat sebagian mereka tidak menjadi hujjah, baik bagi kalangan tabi;in sendiri maupun bagi generasi sesudahnya.                               Dalam keadaan demikian, persoalannya dikembalikan kepada bahasa Al-Qur’an, Sunnah, keumuman bahasaArab dan                                         pendapat para sahabat tentang hal tersebut.
Pada masa tabi’in ini, tafsir tetap konsisten dengan metode talaqqi watalqin (penerimaan dan periwayatan).                                                    Tetapi setelah banyak ahli kitab masuk Islam, para tabi’in banyak yang menukil dari mereka cerita-cerita isra’iliyat                                           yang kemudian dimasukkan kedalam tafsir. Misalnya, yang diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, Ka’ab bin Al-Ahbar,                                 Wahab bin Munabbih dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Di samping itu, pada masa ini, mulai timbul silang                                           pendapat mengenai status tafsir yang diriwayatkan dari mereka karena banyaknya pendapat-pendapat mereka. Namun                                          demikian, pendapat-pendapat tersebut sebenarnya hanya bersifat keberagaman pendapat, berdekatan satu dengan yang                                     lain. Dan perbedaan itu hanya dari sisi redaksional, bukan perbedaan yang bersifat kontradiktif.
Ahli tafsir golongan tabi’in lebih banyak daripada golongan ahli tafsir sahabat, karena golongan sahabat yang terkenal                                 dengan ahli tafsir tidak lebih dari sepuluh orang, seperti telah disebutkan oleh Imam Suyuti dalam kitabnya Al-Itqan.
Ahli tafsir golongan tabi’in ini terbagi dalam tiga kelompok yaitu :
1.      Kelompok ahli Makkah
2.      Kelompok ahli Madinah
3.      Kelompok ahli Irak

Upaya penafsiran Alquran pada masa-masa awal Indonesia modern ini ditampilkan melalui paparan ayat-ayat tertentu dari                                    Alquran yang berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar Islam. Ayat-ayat tersebut ditampilkan diberi komentar sesuai dengan                                    kecenderungan pemberi komentar (mufassir). Karya-karya tafsir semacam ini kemudian cukup mendapat respons dari                                          masyarakat dan dianggap cukup penting untuk dipelajari dan dijadikan sebagai buku agama.  [10]

BAB III
PENUTUP
                         A.     Kesimpulan
                          Pertumbuhan Al-Qur’an dimulai sejak dini, yaitu sejak zaman Rasulullah saw, orang pertama yang menguraikan                                            Kitabullah Al-Qur’an dan menjelaskan kepada umatnya wahyu yang diturunkan Allah swt ke dalam hatinya.
                          Ahli tafsir dikalangan para sahabat Nabi banyak jumlahnya, tapi yang terkenal luas hanyalah 10 orang, empat orang                                     Khulafa Rasyidun, yakni Abu Bakar ash-Shiddik, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib r.a. Serta                                     masih banyak lagi para sahabat Nabi yang menguasai ahli tafsir.
                               Dalam menafsirkan, para tabi’in berpegang pada sumber-sumber yang ada pada masa pendahulunya disamping                                          ijtihad dan pertimbangan nalar mereka sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
                             Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali. Studi Alquran.  Maktabah Al-Ghazali.     
              Damaskus, 1991. Cetakan I.
                                        As-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu- Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Tim Pustaka
               Firdaus,1985. Cetakan ke 16 1985.
                                        Baidan, Nashruddin. Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia.
                                        Manna Al-Qaththan, Syaikh. Mabahits fii Ulumil Qur’an.  Jakarta Timur:
              Maktabah Wahbah – Kairo, 2004.Cetakan ke 13 / 2004 M – 1425 H.
                        
                                        Manna Al-Qaththan, Syaikh.Pengantar Studi Al-Qur’an. Maktabah
              Kairo, 2004. Cetakan ke 13 / 2004 M-1425 H.
                                        Mashyud. Studi Alquran. Surabaya:Anggota IKAPI, 2011.
                                       Mashyur. M. Studi Alquran. Penerbit Dakwah Digital Perss, 2009.
                                       Musyafa’ah, Hj. Sauqiyah. Studi Al-Qur’an. Surabaya, Anggota IKAPI,
               2011. Cetakan pertama Surabaya UINSA Press Agustus 2011.
                                       Rohimin. Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran.
               Pustaka Pelajar. Cetakan I April 2007.
                       Suyuti, Imam. Uluwul Qur’an II. Surakarta, Indiva Pustaka, 2009.
              Cetakan Pertama, Rabi’ul awal 1430H/ Maret 2009.
                                           Zuhdi, Achmad.  Studi Al-Qur’an. Surabaya:Anggota IKAPI, 2011.











[1] Mashyud. Studi Alquran. Hal 58
[2]Zuhdi, Achmad. Studi Alquran. Surabaya: Anggota IKAPI, 2011. hal 502

[3] Suyuthi, Imam. Ulumul Qur’an II. Surakarta: India Pustaka 2009. Hal 935
[4] As-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-ilmu Al-qur’an. Jakarta: Penerbit pustaka Firdaus, 1990. Hal 411
[5] Dr. Subhi as-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 1990), hlm 412


[6]Baidan, Nashruddin. Perkembangan Tafsir Alquran di Indonesia. Hal 9
[7] Al-Qaththan, Syaikh Manna. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Kairo: 2004. Hal 422
[8]. Musyafa’ah, Sauqiyah. Studi Alquran. Surabaya: Anggota IKAPI,2011. Hal 504
[9]. Zuhdi, Achmad.  Studi Al-Qur’an. Surabaya:Anggota IKAPI, 2011. hlm 545

[10]  Rohimin. Metodologi Ilmu Tafsir dan Aplikasi Model Penafsiran. Hal 40.

https://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQTU7dOL9qM/view?usp=drivesdkhttps://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQT...