Kamis, 15 Juli 2021

https://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQTU7dOL9qM/view?usp=drivesdkhttps://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQTU7dOL9qM/view?usp=drivesdk

Senin, 14 Juni 2021

 

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Modern

 

Komunikasi lintas budaya atau cross cultural communication adalah bidang studi komunikasi yang memandang bagaimana manusia yang berbeda latar belakang budaya berkomunikasi. Komunikasi lintas budaya adalah studi yang berakar dari studi antropologi budaya. Titik berat komunikasi lintas budaya adalah proses komunikasi yang terjadi dalam berbagai macam budaya yang berbeda. Komunikasi lintas budaya merupakan "pintu gerbang" agar dapat memahami komunikasi antar budaya atau intercultural communication.

"Hambatan dapat diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami." (BADUDU ZAIN, 1994:489) Hambatan Dakwah Multikultural:

1.      Etnosentris

Fanatisme yang berlebihan terhadap pendapat pribadi dan golongan, sehingga apriori (ber praanggapan) menolak pendapat orang lain di luar kelompok atau jamaahnya. (biasanya disertai dengan meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain).

2.      Indriskriminasi

Tidak mampu mengidentifikasi perbedaan atau keunikan. Indiskriminasi merupakan pengingkaran kekhasan orang lain.

3.      Prasangka (Prejudice)

Menurut Sears, prasangka berkaitan dengan persepsi. Apabila seseorang atau sekelompok orang memiliki pengalaman yang buruk terhadap orang atau sekelompok orang lainnya, maka pada dirinya akan timbul suatu persepsi yang kurang baik. Persepsi yang kurang baik inilah. yang akhirnya menjadi prasangka yang menetap.

4.      Stereotip (Stereotype)

Prasangka sosial bergandengan dengan stereotip yang merupakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang atau golongan lain yang bercorak negatif (Gerungan, 1983: 169). Stereotip terbentuk meskipun seseorang belum bergaul dengan yang diprasangkainya. Stereotip terbentuk berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif

5.      Perbedaan Kepentingan

Kepentingan akan membuat orang selektif dalam menanggapi dan menghayati pesan. Orang hanya akan memperhatikan stimulus atau pesan yang ada hubungannya dengan kepentingannya.

6.      Motivasi

Motif merupakan semua penggerak, alasan-alasan atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang membuat manusia berbuat sesuatu (Gerungan, 1983: 142) Seseorang akan mengabaikan pesan komunikasi yang tak sesuai dengan motivasinya.

7.      Faktor Semantik

Hambatan komunikasi yang disebabkan karena kesalahan pada bahasa, baik pada komunikator maupun komunikan.

Hambatan semantik dapat terjadi dalam beberapa bentuk.

a.       Komunikator salah mengucapkan kata atau istilah karena bicara terlalu cepat

b.      Adanya perbedaan makna dan pengertian untuk kata atau istilah yang sama karena faktor psiko budaya

c.       Adanya pengertian yang konotatif (memberi makna secara emosional, bukan makna sebenarnya).

 

8.      Kesalahan Interpretasi Bahasa Nonverbal

 

Orang-orang dari budaya yang berbeda memiliki realitas sensori (indrawi) yang berbeda pula. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan hanya pada apa yang dianggap bermakna bagi mereka (sesuai dengan budaya tempat mereka berada).

Contoh masyarakat Batak menggunakan bendera merah sebagai tanda ada orang meninggal, sedangkan masyarakat Jawa menggunakan bendera warna putih.

9.      Perbedaan Budaya dan Norma Sosial

Perbedaan budaya sekaligus juga menimbulkan perbedaan norma sosial yang berlaku pada masing-masing etnik masyarakat. Karena budaya dan norma sosial itu dikenal, diakui, dihargai dan kemudian ditaati dalam kehidupan sehari-hari, maka pelanggaran terhadap keduanya tentu akan mendapatkan sanksi, yang bentuknya berbeda pada setiap masyarakat serta berbeda pula tingkatannya.

Senin, 07 Juni 2021

 

AKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA VERBAL DAN NON-VERBAL DALAM ILMU DAKWAH

1.      Dakwah

Secara etimologis, kata dakwah merupakan bentuk masdar dari kata yad’u (fi’il mudhari’) dan da’a (fi’il madli) yang artinya adalah memanggil (to call), mengundang (to invite), mengajak (to summer), menyeru (to propo), mendorong (to urge), dan memohon (to pray). Sehingga dakwah dipahami sebagai seruan, ajakan, dan panggilan dalam rangka membangun masyarakat Islami berdasarkan kebenaran ajaran Islam yang hakiki. Dengan kata lain, dakwah merupakan upaya atau perjuangan untuk menyampaikan ajaran agama yang benar kepada umat manusia dengan cara yang simpatik, adil, jujur, tabah dan terbuka, serta menghidupkan jiwa mereka dengan janji-janji Allah SWT tentang kehidupan yang membahagiakan, serta menggetarkan hati mereka dengan ancaman-ancaman Allah SWT terhadap segala perbuatan tercela, melalui nasehat-nasehat dan peringatan-peringatan.

2.      Komunikasi Lintas Budaya

Komunikasi lintas budaya adalah proses dimana dialihkan ide atau gagasan suatu budaya yang satu kepada budaya yang lainnya dan sebaliknya, dan hal ini bisa antar dua kebudayaan yang terkait ataupun lebih, tujuannya untuk saling memengaruhi satu sama lainnya,baik itu untuk sebuah kebaikan kebudayaan maupun untuk menghancurkan suatu kebudayaan, atau bisa jadi tahap awal dari proses akulturasi (penggabungan dua kebudayaan atau lebih yang menghasilkan kebudayaan baru)".

Kinicki,A & Kreitner,R (2003:137) menjelaskan bahwa ada tiga pilihan dalam melakukan komunikasi lintas budaya yaitu : 1) tetap berpegang pada bahasanya sendiri; 2) tergantung pada penerjemah bahasa; 3) mempelajari sendiri bahasa lokal. Lebih lanjut dijelaskan berdasarkan pengalaman manajer internasional yang berhasil dari ketiga pilihan tersebut maka pilihan ketiga yaitu mempelajari bahasa lokal/negara tempat bekerja dianggap yang paling efektif dalam melancarkan komunikasi dengan rekan bisnis. Pengabaian Bahasa lokal/keengganan mempelajari bahasa lokal berarti berpeluang kehilangan pemahaman arti tertentu padahal bisa jadi sangat penting untuk kelangsungan usaha.

Dalam komunikasi lintas budaya salah satu hambatannya adalah perbedaan bahasa. Bahasa merupakan perluasan dari suatu budaya. Perbedaan pengertian atau memaknai suatu kata atau simbol menjadi suatu potensial hambatan komunikasi dan hal tersebut dapat menghambat proses aktifitas bisnis atau organisasi.


Senin, 10 Mei 2021

 

Dakwah Dan Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antarpersonal yang terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda dan membawa efek tertentu

Menurut Effendy yang dimaksud dengan pola komunikasi adalah proses yang dirancang untuk mewakili kenyataan keterpautannya unsurunsur yang dicakup beserta keberlangsunganya, guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis. Pola komunikasi identik dengan proses komunikasi, karena pola komunikasi merupakan bagian rangkaian aktifitas menyampaikan pesan sehingga diperoleh feedback dari penerima pesan.

Adapun pola komunikasi dan penjelasannya sebagai berikut:

a) Pola Komunikasi Primer

Pola komunikasi primer merupakan suatu proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu lambang sebagai media atau saluran.

b) Pola Komunikasi Sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

c) Pola Komunikasi Linear

Istilah linear mengandung makna lurus. Jadi proses linear berarti perjalanan dari satu titik ke titik lain secara lurus. Dalam konteks komunikasi, proses secara linear adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan sebagai titik terminal.

d) Pola Komunikasi Sirkular

Dalam konteks komunikasi yang dimaksudkan dengan proses secara sirkular itu adalah terjadi feedback atau umpan balik, yaitu terjadinya arus dari komunikan ke komunikator.

Senin, 19 April 2021

 

Dakwah Dalam Antar Etnik, Ras, Dan Bangsa

Negara Indonesia terbentuk dari berbagai ragam kelompok suku, etnis, budaya, bahasa, agama dan lain-lain. Dengan keragaman tersebut bangsa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang mempunyai "multikultural". Multikulturalisme merupakan paradigma yang menganggap adanya kesetaraan antar ekspresi budaya yang plural. Multikulturalisme mengusung kesadaran sosial kehidupan masyarakat terdapat keragaman budaya. Kesadaran tersebut berdimensi etis yang menuntut tanggungjawab yang terarah pada ortopraksis (tindakan baik dan benar), yang selanjutnya terwujud ke dalam berbagai bentuk penghargaan, penghormatan, perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengakuan akan eksistensi terhadap sesama.

Penanaman pemahaman tentang multikultural bertujuan untuk menghilangkan prasangka, menimbulkan dialog, mengenal perbedaan sehingga timbul rasa saling menghargai dan mengapresiasi. Dari sini diharapkan akan muncul modal kultural suatu bangsa karena bangsa yang kehilangan modal kultural akan sangat rawan perpecahan. Modal kultural lahir dari kekayaan kearifan lokal bangsa yang jika diangkat bisa menjadi kekuatan yang sangat besar. Dalam konteks Indonesia yang amat majemuk, penanaman pemahaman multikultural menjadi sangat strategis untuk dapat mengelola kemajemukan secara kreatif, sehingga konflik yang muncul sebagai dampak dari transformasi dan reformasi sosial dapat dikelola secara cerdas dan menjadi bagian dari pencerahan kehidupan bangsa ke depan.

Multikulturalisme dalam agama maupun budaya merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibantah. Orang mengajak melestarikan lingkungannya, mencintai dan menyayangi sesama manusia, saling menghargai dan menghormati, kompetisi sehat dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya ternyata bukan hanya monopoli khotbah Sang Pastor di gereja-gereja, nasehat-nasehat mubaligh di podium, para politisi dalam kampanye pemilu atau sikap biksu dan pendeta bijak pada keyakinan dan ajaran-ajaran agama yang berbeda. Sikap saling membela dalam mempertahankan budaya dan tradisi suatu masyarakat tidak hanya monopoli kaum primitif yang hidup di hutan nan jauh dari keramaian kota seperti suku-suku di Papua dan Kalimantan, tetapi hampir setiap masyarakat menyatu dengan budayanya berhak untuk melestarikannya. Apalagi di era teknologi informasi sekarang, batas-batas budaya, baik secara sosiologis maupun geografi sudah sulit untuk dibatasi dan memudahkan untuk berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu jalan untuk menyikapinya atas kenyataan pluralitas ini adalah dengan cara dan sikap mengakui kenyataan tersebut, saling mengenal dan bekerjasama dalam memelihara kehidupannya. Demikan pula dalam dakwah yang dilakukan untuk membimbing umat. Aktivitas dakwah pada era sekarang dituntut melakukan upaya-upaya dan pendekatan-pendekatan dakwah yang lebih bisa mengayomi dan mempertimbangkan budaya-budaya masyarakat dan berpijak pada nilai-nilai universal kemanusiaan. Dakwah merupakan suatu proses, seharusnya dilakukan dengan cara-cara dan strategi yang lebih terencana, konseptual dan terus-menerus (continue) dan terus meningkatkan pendekatan-pendekatan yang lebih ramah tanpa mengubah maksud dan tujuan dakwah.[1]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUGAS REVIEW

Komunikasi antarbudaya merupakan proses komunikasi diantara dua latar belakang budaya yang berbeda. Dalam konteks secara luas diartikan sebagai antar budaya bangsa, suku dan ras. Misalnya antara orang Indonesia dengan orang Malaysia, antara suku sunda dengan suku jawa, antara ras klokasia dengan ras Mongolia. Dalam konteks individu bisa diartikan proses komunikasi antar dua kepribadian yang mempunyai perbedaan kebiasaan. Dalam komunikasi anatarbudaya ini rawan konflik karena memiliki pengertian atau makna yang berbeda mengenai suatu perbuatan, seperti bersendawa, dalam budaya tertentu bersendawa merupakan suatu bentuk pujian terhadap makanan yang enak, namun dalam budaya bangsa lain  itu adalah sebuah ketidak sopanan. Maka dari itu sering terjadi salah persepsi diantara dua orang atau dua kelompok dengan latar belakang budaya yang berbeda. Solusinya kita harus mempelajari budaya setempat dan tingkatan tenggang rasa (toleransi).

Bentuk-bentuk komunikasi dalam konteks ilmu lainnya, yaitu :

1.      Komunikasi politik, proses komunikasi yang dilakukan dalam konteks perpolitikan

2.      Komunikasi kesehatan, proses komunikasi yang terjadi dalam konteks paramedic

3.      Komunikasi terapetik, proses komunikasi yang bukan hanya dalam konteks paramedic saja namun ada pula yang disebut dengan tarapis nonformal seperti tukang pijit, pengobatan alternatif , perawat dan sebagainya. Jadi komunikasi terapis adalah komunikasi dalam konteks terapis dan pasiennya.

4.      Komunikasi dakwah, kalau dalam ilmu dakwah dikatakan bahwa komunikasi adalah bagian dari dakwah, akan tetapi dari perspektif ilmu komunikasi, dakwah itu adalah salah satu metode komunikasi. Jadi komunikasi dakwah adalah proses komunikasi dalam usaha menyampaikan pesan atau nilai-nilai Islam kepada umat manusia

5.      Komunikasi krisis dan bencana, proses komunikasi dalam menghadapi dan menanggulangi krisis dan bencana

6.      Komunikasi transcendental, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit  baik di buku maupun di kelas.komunikasi transcendental merupakan proses komunikasi yang terjadi antara manusia (hamba) dengan Tuhannya. Alur komunikasinya satu arah seperti sembayang, sholat dan berdo’a. komunikasi ini biasa dikenal sebagai komunikasi untuk meminta dan memohon.

7.      Komunikasi spiritual, bentuk komunikasi yang jarang dipelajari secara eksplisit dalam textbook ilmu komunikasi. Komunikasi spiritual merupakan proses komunikasi yang melibatkan unsur spiritual (rasa). Memiliki alur dua arah dan juga merupakan proses komunikasi pada tahap yang lebih tinggi, yaitu untuk mencapa konektifitas yang solid dengan Sang Pencipta dan ciptaannya yang lain.

8.      Komunikasi spranatura;, komunikasi yang tidak perlu dipelajari cukup diketahui saja karena merupakan komunikasi yang lebih ke unsur negative. Seperti seorang dukun yang berkomunikasi dengan makhluk-makhluk astral.

Maka dari itu berkomunikasilah yang positif sejak dari dalam pikiran hingga ucapan sehingga energi positif kita akan menyebar kealam semesta menjadi positif juga.[2]

Keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

1.      keberagaman dalam masyarakat Indonesia

a.       faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia

keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa ras agama keyakinan ideologi politik sosial budaya ekonomi dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa

b.      Keberagaman suku bangsa dan budaya

keberagaman bangsa Indonesia terutama terbentuk oleh jumlah suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Menurut penelitian Badan Pusat Statistik yang dilaksanakan tahun 2010 di Indonesia terdapat 1128 suku bangsa, antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia

c.       Keberagaman agama dan kepercayaan

di mana di negara kita Terdapat 6 agama dan kepercayaan

d.      Keberagaman ras

ras adalah warna kulit, ada mongoloid dan Negroid ada Melanesoid kalau kita kebagian kulit sawo matang.

Dari disini ada faktor penyebab keberagaman masyarakat Indonesia adalah keberagaman suku bangsa dan budaya ada keberagaman agama dan kepercayaan dan juga keberagaman ras atau warna kulit.

2.      Arti penting memahami keberagaman dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika

keberagaman suku bangsa budaya ras agama dan antargolongan menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia kita tidak hanya memiliki keindahan alam tetapi juga keindahan dalam keberagaman masyarakat Indonesia

3.      Perilaku toleransi terhadap keberagaman suku agama, ras dan antargolongan

Persatuan dan kesatuan di sebuah negara yang beragam dapat diciptakan salah satunya dengan perilaku masyarakat yang menghormati keberagaman bangsa dalam mewujudkan perilaku toleransi terhadap keberagaman tersebut. Sikap toleransi berarti menahan diri bersikap sabar membiarkan orang berpendapat lain dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda. Toleransi sejati didasarkan sikap hormat terhadap martabat manusia, hati nurani dan keyakinan serta keikhlasan sesama apapun agamanya suku, golongan, ideologi atau pandangannya [3]

Toleransi adalah kemampuan hidup dengan sesuatu (termasuk sikap dan situasi orang lain) yang tidak Anda sukai. Anda tidak menyukainya karena ini berbeda dengan apa yang biasa Anda lakukan, tidak sesuai dengan nilai yang Anda pegang atau tradisi tempat Anda dibesarkan. Terkadang Anda harus hidup dengan hal semacam itu agar Anda tidak mengalami kesulitan atau agar Anda memahami penyebabnya yang membuat orang lain melakukan apa yang tidak Anda sukai dan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar dalam situasinya konflik akan terjadi sewaktu-waktu sehingga pengembangan diri terhambat. Namun, memberi banyak toleransi tidak kalah berbahayanya. Ini dapat mengakumulasi ketidakpuasan hingga ke titik tak tertahankan yang dapat menyebabkan gangguan yang lebih besar. Selain itu, toleransi sebenarnya merupakan langkah parsial pembuktian dalam hubungannya dengan hidup bersama. Seseorang tidak bisa mentolerir setiap hari, kecuali sangat sedikit orang. Seseorang mungkin bertoleransi dalam waktu yang lebih lama daripada yang lain, tetapi selalu ada batasan yang tidak dapat dilampaui. Tidaklah mudah untuk menetapkan batasan dimana kebebasan dan batasan manusia harus diakhiri. tetapi pada saat yang sama mereka menjamin penerapannya atau lebih baik memberikan ruang yang adil bagi individu untuk menggunakan kebebasan mereka. Tanpa mereka akan ada hukum "survival of the fittest" Atau, beberapa anggota komunitas atau ras manusia mungkin lebih mengutamakan kebebasan, sedangkan yang lain hanya memiliki ruang sempit untuk menjelajah, atau bahkan beberapa individu yang berkuasa mengambil alih ruang sehingga tidak memberi ruang bagi orang lain.Perkembangan dunia kita tidak memberi ruang bagi sekelompok orang untuk hidup terpisah-pisah dari orang lain. Komunitas berkembang menjadi masyarakat majemuk di mana orang-orang hidup dari berbagai latar belakang, agama, budaya, dan lain-lain. Satu-satunya pilihan yang kita miliki dalam situasi seperti ini adalah hidup bersama. Ini berarti bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat ditinggalkan atau diabaikan dalam menjamin keberadaan masyarakat mana pun. Penggunaan kekuasaan dan paksaan hanya akan menghancurkan masyarakat. Itu akan menyebabkan dendam dan kebencian yang membuat bumi tidak menyenangkan untuk ditinggali. Agama harus dihadirkan sebagai berkah bagi umat manusia karena harus memberikan pedoman hidup dan cita-cita yang harus diarahkan.[4]

 

 

 



[1] Jurusan Dakwah STAIN Purwokerto KOMUNIKA ISSN: 1978-1261 Vol.6No.1Januari -  Juni 2012 pp.

[2] Channel youtube Betty Tresnawaty, Ragam Bentuk Komunikasi, 2020

[3] Channel youtube Rahayu Rintoweni, Keberagamab Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika, 10 Januari 2021

[4] Channel youtube Gery Ayatullah E. Religious tolerance, 2 Maret 2021

Senin, 05 April 2021


FUNGSI, TUJUAN DAN PERANAN DAKWAH DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA


Dua konsep utama yang mewarnai komunikasi antarbudaya yaitu konsep kebudayaan dan konsep komunikasi. Budaya mempengaruhi komunikasi dan gilirannya komunikasi turut menentukan, menciptakan dan memelihara realitas budaya. Budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang dan bagaimana komunikasi berlangsung, budaya juga turut menentukan bagaimana orang menyampaikan pesan.

Tujuan dakwah dalam komunikasi antarbudaya adalah menjadikan islam lebih fleksibel dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat meskipun memiliki perbedaan antara satu sama lain. dapat mencegah terjadi konflik keagamaan dalam masyarakat. Pesan dakwah yang menyampaikan nilai ketuhanan sejatinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud dialog internal umat beragama serta sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antar umat beragama.

    Fungsi dakwah dalam komunikasi antarbudaya ini adalah mengajarkan dan mengenalkan nilai-nilai ajaran islam kepada budaya masyarakat, menjadi perantara dalam proses komunikasi antar budaya, dan mengawasi praktik komunikasi antar budaya yang antara komunikator dan komunikan berbeda kebudayaan.

    Peranan dakwah dalam komunikasi antar budaya. Kehadiran dakwah di tengah umat harus mampu mendorong terjadinya sebuah perubahan nyata kepada umat baik dalam apek pikir( pemahaman) maupun perilakunya, sebab ending terbesar dari dakwah adalah mengeluarkan manusia dari situasi kegelapan dan kemunduran menuju cahaya islam yang berkemajuan dilandasi dengan nilai-nilai tauhid. Seorang da'i harus mampu berdialog dengan kebudayaan modern dan secara aktif mengisi dengan substansi dan nuansa-nuansa islam. Hal ini bisa dilakukan bila kita memahami arus globalisasi secara benar dan tidak tertinggal dengan informasi aktual dari mancanegara.Dengan keberhasilan dakwah dalam mewujudkan peranan sosial, maka dengan sendirinya ajaran islam diyakini tidak hanya mengarahkan umatnya untuk meraih kehidupan akhirat dengan sukses. Ajaran islam tidak pula mengenal adanya pemisahan antara hidup dunia dan akhirat, bahkan doktrin islam menganggap kehidupan dunia adalah sarana untuk ibadah dalam upaya menggapai kebahagian akhirat.




MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH

KPI A2 (B71219066)

Senin, 29 Maret 2021

BASIS DAN PENDEKATAN DAKWAH MULTIKULTURAL

A.    Dakwah Multikultural

Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran

dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat

plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal

hal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat

disepakati

 

B.     Basis dan Pendekatan Dakwah Multikultural

 

1.      Basis Dakwah Multikultural

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, multikultural merujuk kepada konsep kebinekaan yang bersifat multi dimensi yang meliputi aspek bahasa, warna kulit, budaya, suku, etnis, bangsa, dan agama. Bila merujuk kepada Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa fakta multikultural umat manusia merupakan kehendak sekaligus sunnatullah bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Kita dapat melihat ayat berikut, sebagai basis dakwah multikultural.  QS. Al-Hujarat: 13

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal”.

Penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa semua manusia derajat kemanusiaannya sama di sisi Allah, tidak ada perbedaan antara satu suku dengan yang lain. Tidak ada juga berbedaan pada nilai kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan karena semua diciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yakni “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa”. Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah.

 

2.      Pendekatan Dakwah Multikultural

            Pendekatan pendekatan dakwah multikultural mencakup lima aspek yakni menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal dan kerja sama serta dialog antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal, menggagas ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas, lebih mengutamakan pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jihady), menggagas ide dialog antar-budaya dan keyakinan (interculture-faith understanding), serta menyegarkan kembali pehamaman doktrin doktrin Islam klasik, dengan cara melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat global-multikultural.


Sumber : Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan  Vol. 8, no. 1 (2017), pp. 160-177


NAMA            : MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH

KELAS           : KPI A2

NIM                : B71219066


Senin, 15 Maret 2021

 

PRINSIP MULTUKURALISME DALAM DAKWAH MULTIKULTURAL
 

Secara faktual, Indonesia adalah bangsa yang memiliki keanekaragaman suku, bahasa, etnis, golongan, warna kulit, dan agama yang menjadi aset bangsa yang akan tetap bersatu membentuk harmoni di dalam wadah keindonesiaan. Secara teologis, keanekaragaman fenomena kehidupan manusia dalam berbagai aspeknya merupakan kehendak Allah yang harus disikapi dengan penuh kearifan.

Salah satu problem dakwah yang cukup penting adalah manyangkut perbedaan paham yang saling membuat hubungan sosial antar pemeluk agama terganggu. Solusi yang ditawarkan oleh agama Islam sendiri adalah dengan dakwah multikultural. Dakwah multicultural adalah panggilan, seruan, atau ajakan kepada masyarakat yang berlatar belakang budaya berbeda, tetapi pendakwah tidak menyinggung, menyakiti. Memojokkan, atau memaksakan ajakan atau seruan tertentu kepada mad’u.

Contoh dakwah multikultural salah satunya ialah dakwah Ustadz Hasan Basri. Model dakwah Utadz Hasan Basri adalah melalui (1) pendekatan budaya sebagai solusi bagi masyarakat untuk dapat hidup rukun dan berdampingan. (2) melalui pendekatan social sebagai upaya mengatasi problem-problem kemanusiaan secara bersama. Dalam dakwah multikultural yang dilakukan oleh Ustadz Hasan, mad’unya tidak hanya berbeda secara ras, suku, dan etnis saja. Namun ada beberapa audiens dari jamaah ceramah Ustadz Hasan yang beragama non muslim. Dengan adanya hal ini semakin menambah semangat Ustadz Hasan dalam menyampaikan dakwahnya. Bagi Ustadz Hasan dakwah dengan menggunakan pendekatan multikultural adalah sebuah Langkah yang tepat di tengah-tengah kemajemukan masyarakat Indonesia.

Contoh dakwah multikultural selanjutnya yaitu terdapat pada masa Rasulullah saw. Dakwah melalui pendekatan budaya telah dicontohkan Rasulullah dalam dakwahnya. Piagam Madinah adalah bukti nyata sekaligus produk dari dakwah multikultural yang dilakukan oleh Rasulullah. Piagam Madinah mengandung konsep multikulturalisme, yakni lebih mementingkan kesetaraan derajat antar kelompok manusia, tanpa melihat adanya perbedaan latar belakang masyarakat. Hal ini dapat ditandai dengan terbentuknya kota Madinah atas perintah Nabi muhammad dengan semangat membangun toleransi antar sesama. Relevansi keduanya (konsep multikulturalisme piagam Madinah) dapat terwujud yakni dengan proses dan upaya yang berkesinambungan. Dalam konteks piagam Madinah memuat prinsip-prinsip multikulturalisme seperti: prinsip keadilan, kebebasan, kesetaraan, persatuan dan kesatuan. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam yang memiliki nilai dan prinsip multikulturalisme secara umum sudah ada sejak zaman nabi Muhammad Saw. Hanya saja, perlu ada pengkajian kembali tentang sejarah pendidikan Islam

Dengan adanya perbedaan suku, ras, budaya dan lainnya semoga kita semua selalu senantiasa bersyukur serta saling menghargai dan menghormati sesama.




NAMA                : MUFIDAH NURUL ALAWIYYAH 

NIM                    : B71219066

SEM/ KELAS    : SEMESTER 4/ KPI A2 

https://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQTU7dOL9qM/view?usp=drivesdkhttps://drive.google.com/file/d/1Fr0Gf8hHqqPj1Aw0p8v-auQT...